Just another WordPress.com site

Terbaru

Coretan pertama

hah, ini permata kali nulis di sini.
Bingung mau nulis apa, mau buat ff juga bingung gag tau pairingnya siapa-siapa aja.
Tapi tenang, aku akan menguras otak buat mikir coretan selanjutnya. Haha gaje* x)

FICTION PART 1

Beginning

Fiction Part 1 : Beginning

Tiffany cuma bisa diam melihat Yuri sibuk mengatur semua berkas di atas meja. Sudah hampir satu jam dia duduk di sofa itu menunggu dengan sabar berharap mendapatkan penjelasan, sebelumnya setiba mereka dirumah dari restoran dimana Yuri memintanya melakukan hal aneh, dia bersyukur itu tidak dibahas lagi.

“Mungkin Yuri hanya bercanda” pikirnya.

Tapi sebagai gantinya Yuri menyuruhnya menyiapkan semua berkas sekolahnya dulu dan semua itu harus siap besok harinya dan sekarang disinilah dia berada.

“Siang ini kau ikut dengan ku..” itu hal pertama yang diucapkan Yuri sedari tadi.

“Huh?” Bingung Tiffany.

“Berpakaian lah yang rapi, jika sudah selesai panggil aku dikamar” Lanjut Yuri lagi. Lalu dia pergi membawa semua berkas itu meninggalkan Tiffany yang masih kebingungan.

Satu Jam kemudian mereka sudah berada didepan gerbang besar dengan berbagai aktifitas orang yang keluar masuk dari situ.

“Yul, sebenarnya kita mau kemana?” Tanya Tiffany menahan tangan Yuri sebelum Yuri pergi masuk. Yuri melihat kesamping kearahnya.

“Kau akan melanjutkan kuliahmu lagi Tiffany” Senyum Yuri.

Setelah selesai dengan persyaratan registrasi perkuliahan, Tiffany menunggu diluar sedangkan Yuri masih didalam berbicara dengan pengurus yang ada.

Banyak yang sedang dipikirkan Tiffany saat ini, kenapa dia tiba-tiba berada disini, kenapa Yuri menyuruhnya melanjutkan kuliahnya lagi dan bagaimana dengan biayanya. Dia tau kuliah itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit, meskipun prestasi nya bagus itu tidak menjamin dia mendapatkan beasiswa kalau tidak ada yang membantunya. Jaman sekarang orang kecil sudah biasa dibodohi dengan orang yang memiliki kekuasaan. Karena itu lah dia tidak melanjutkan kuliahnya.

Dulu dia sempat kuliah hanya saja terhenti pada tingkat kedua karena urusan biaya padahal dia yakin pada saat itu dia mendapatkan beasiswa prestasi untuk kuliah gratis tapi apa daya takdirnya memang harus berhenti. Dia ingat betul saat itu menangis seharian didalam kamar, menyesali, mengutuki peraturan perkuliahan. Dia senang belajar, senang mencari hal baru, tentu saja saat harus terpaksa berhenti itu menyakitkan baginya.

Tapi, sekarang dia malah berada disalah satu universitas ternama dikorea, seoul university. Dimana universitas ini terkenal dengan orang ternama yang kuliah disana, tentu saja biayanya juga pasti sangat tinggi. Untuk kasus Tiffany tingkat kecerdasannya bisa dengan gampang lulus seleksi menjadi mahasiswa tapi kalau untuk biaya, itu tidak mungkin. Jadi, kenapa dia bisa menjadi mahasiswa disini? Dari mana Yuri mendapatkan semua uang untuk nya? Ini yang membuatnya hampir gila memikirkannya. Meski begitu pikiran ini tidak bisa membohongi hatinya yang sangat gembira bisa kuliah lagi.

“Owhhh aku kuliah lagi! Aku kuliah?! Arrghh” girangnya melompat-lompat kecil. Dia tidak peduli kalau sekarang dia sedang berada dilorong depan perkantoran. Dimana aktivitas banyak terjadi.

“Apa aku sudah menjadi mahasiswa disini?” Tanyanya sendiri bingung, kemudian dia tersenyum menepuk kedua tangannya.
“Tentu saja! Petugas didalam tadi sudah mengatakan aku resmi diterima menjadi mahasiswa disini ahaha” Dia terus melompat-lompat kecil kegirangan sampai suara menegurnya.

“ehem.. Maaf ini tempat perkuliahan jadi jika anda ingin melakukan aktraksi sirkus anda bukan disini tempatnya.” Suara orang itu datar tapi penuh dengan kesombongan membuat Tiffany merasa jengkel.

“Yah, apa kau bisa sopan sedikit!” marah Tiffany.

“Kau?!” Kenal orang itu, “Mau apa kau disini? Gadis gila” Ucap Taeyeon menatap tajam kearah Tiffany.

“urgh.. Kenapa aku harus bertemu dengan kau lagi!” Tiffany membalikkan tubuhnya menghindari tatapan Taeyeon. Dia sedang dalam mood yang baik saat ini. Sejujurnya dia juga merasa sedikit malu, karena Taeyeon melihatnya dalam kondisi seperti tadi padahal terakhir mereka bertemu dia sudah merasa sangat cool.

“Hey gadis gila..apa kau tuli??” Tanya Taeyeon lagi mengejek.

Tiffany cepat membalikkan badannya.

“Bukan urusan mu!” Jawab Tiffany keras.

“Kau berdiri dikampusku, tentu saja ini urusanku. Aku tidak mau ada orang gila yang merusak citra kampus ini..” Ucap Taeyeon santai tapi menyakitkan untuk Tiffany. Apalagi disana bukan hanya ada mereka berdua sekarang. Taeyeon memang sengaja menyidir Tiffany sekarang.

Tiffany diam menatapnya geram.

“Tunggu..apa kau kuliah disini juga? Petugas kampus ini pasti sudah buta membiarkan gadis sepertimu masuk disini..lihat saja dari tingkahmu, sama sekali tidak mencerminkan seseorang yang berpendidikan. Kampus ini tidak cocok dengan gadis seperti kau. Kampus ini terlalu indah untukmu.” ketus Taeyeon sambil Tersenyum. Dia berhasil membalas dendamnya. Tiffany bisa mendengar dengan jelas suara tawa orang-orang disekelilingnya. Dia dengan kuat menahan air matanya yang ingin meluncur bebas.

“Jadi bagaimana orang yang berhak masuk disini? Apa seperti kau?” Tanya Tiffany menatapnya.

“Tentu saja. Dia harus sempurna seperti aku.” Bangga Taeyeon.

“Kau..kau memang sempurna, kau memiliki semuanya tapi kau tidak memiliki sopan santun. Buat apa orang menguliahkan anaknya sampai pada pendidikan tertinggi jika jadinya seperti kau..aku kasian pada orang tuamu. Orang seperti kau tidak akan mendapatkan kesenangan karena yang berada disekelilingmu semua palsu. Kau memaksa mereka menjadi seperti dirimu. Kau bodoh!” Teriak Tiffany lepas.

Semuanya terdiam termasuk Taeyeon yang berada didepannya.
“Apa yang dikatanya semua benar?” pikir Taeyeon. “Apa aku sudah kelewatan batas mengejeknya?”

“Aku akan terus berada disini, karena aku sudah menjadi mahasiswa disini. Kau akan terus bertemu denganku. Bersiaplah karena mulai dari sekarang hari mu yang sempurna akan dirusak dengan gadis gila disekelilingmu” Ucap Tiffany sebelum dia pergi berbalik menghampiri lalu menggandeng tangan Yuri yang baru saja keluar dari ruangan.

“yah!” Teriak Taeyeon kesal. Iya, dia kalah lagi.

Yuri heran karena tiba-tiba Tiffany menggandengnya dan membawanya pergi. Dia mendengar suara orang berteriak dibelakang, dan melihat itu Taeyeon dengan tatapan kesal melihat ke arah mereka.

“Kau sudah bertemu dengannya” gumam Yuri. Dia ikut kemana Tiffany membawanya.

Mereka duduk disalah satu kursi ditaman kampus itu. Hari sudah sore, pemandangan disana sangat indah dan Tiffany melihatnya dengan penuh kekaguman. Lalu ucapan Taeyeon terlintas dipikirannya.

“Kampus ini tidak cocok dengan gadis seperti kau. Kampus ini terlalu indah untukmu.”

Di menghela nafas berat.

“Aku pikir aku memang tidak cocok disini” Gumamnya menunduk, air matanya secara tidak sadar mengalir dari ujung pinggiran kelopak matanya.

“Apa yang kau bicarakan?” Kaget Yuri.

Tiffany hanya menghela nafas beratnya lagi.

“Tiffany..” Panggil Yuri, Dia memaksa Tiffany melihatnya.

“Hey..kau kenapa?” Tanyanya lagi.

“Kampus ini tidak cocok denganku Yul, semua yang berada disini sangat indah aku hanya akan mengotori kampus ini..dengan kondisi ku ini” Jujur Tiffany. Ucapan Taeyeon masi menjadi pikiran utamanya.

“Jadi kau ingin menyerah?” Tanya Yuri lagi, Tiffany menatapnya.

“Tiffany, aku tau kau..bukan kau kau senang belajar? Ini kesempatanmu. Kampus ini punya banyak pelajaran baru untukmu, kau bisa belajar menjadi seperti mereka. Karena aku yakin kelak kau lah yang bahkan membuat kampus ini lebih indah lagi dengan prestasimu.”

“Kau cocok berada disini..” Ucap Yuri tersenyum.

“Benarkan?” Tanya Tiffany polos.

“Iya.. Jadi mulai sekarang berhenti bicara yang tidak penting. Semangat oke?!”

Tiffany tersenyum senang.

“Semangat! yeah..Tiffany semangat! Buat si bodoh itu tau kau cocok berada disini!” teriak Tiffany semangat.

Yuri hanya tertawa melihatnya.

Kemudian Tiffany melihat dekat kearah Yuri lagi, dengan tatapan menyelidiknya.

“a-a-apa?” Takut Yuri.

“Kenapa kau membantu ku kuliah lagi? Sedangkan kau tidak melanjutkan kuliahmu.. Dan kenapa kau memilih kampus ini, kampus ini membutuhkan biaya yang mahaaaal. Dari mana kau mendapatkan uang?” Tanya Tiffany penasaran.

Yuri memandang kedepan.

“Aku membantumu kuliah karena ku tau kau sangat ingin, sedangkan aku kuliah bukan tujuanku. Aku bosan dan merasa tidak bebas. Jadi kau yang kuliah dan nanti mengajarkan aku.” Jelas Yuri tersenyum sendiri.

“heh” Tiffany melihatnya aneh.

“Alasan memilih kampus ini karena ini kampus dengan kualitas pelajaran terbaik, ini cocok denganmu. Soal biaya kau tenang saja. Lagipula dia kuliah disini..” Yuri menghenti ucapannya sejenak untuk melihat Tiffany.

“Orang itu, buat dia jatuh cinta kepadamu” sambungnya lagi.

Seketika semua permohonan Yuri kembali dipikiran Tiffany. Entah kenapa setiap Yuri mengatakan hal ini, suasananya menjadi beda untuk Tiffany. Dia bisa merasakan Yuri bersungguh-sungguh bahkan sangat serius dengan ucapannya.

“Kau mau melakukannyakan?” Tanya Yuri membuyarkan pikirannya.

“a-a-aku..” bingung Tiffany. Dia tidak tau harus berkata apa. Ini pertama kalinya Yuri meminta sesuatu darinya.

“Aku yakin kau pasti bisa.. Buat dia jatuh cinta padamu, melakukan semuanya untukmu lalu tinggalkan dia.. Kau mau melakukannyakan? Untukku?” Pinta Yuri lagi. Kali ini dia menggenggam tangan Tiffany berharap akan jawaban yang diberikan. Tiffany bisa melihat raut muka Yuri yang sangat menginginkan dia menjawab ‘iya’. Melihat Yuri seperti itu membuat hatinya berdebar kecang.

“Apapun akan ku lakukan untuk Yuri” gumam Tiffany dibenaknya.

Dia mengangguk pelan, menatap Yuri yang tersenyum senang didepannya.

“Iya”

Yuri memeluknya.

“Gomawo Fany-ah. Gomawooo” Senang Yuri. Dia membalas pelukan Yuri sambil tersenyum. Hatinya mulai berdebar kencang lagi.

“Semua akan ku lakukan untukmu Yul, apapun itu asal aku bisa melihatmu seperti ini.” Ucap Tiffany dalam benaknya. Tapi kemudian dia terbayang wajah kesal Taeyeon menatapnya.

“Aish..bagaimana caranya membuat orang bodoh itu jatuh cinta dengan ku?!” pikirnya prustasi.

“Taeyeon” Kaget Jessica saat membuka pintu rumahnya.

Taeyeon langsung masuk kedalam tanpa menjawab. Dia menuju kamar Jessica merebahkan dirinya tempat tidur. Karena rumah Jessica tidak luas jadi ruang tamunya tidak memiliki sofa, mereka kadang hanya duduk dilantai jika ingin menonton. Taeyeon sudah sering kerumahnya, dia sudah terbiasa disana.

“hey..apa kau tidak punya kerjaan lain selain masuk kamar orang tanpa permisi? Dasar tidak sopan..” Ucap Jessica bercanda.

Taeyeon langsung duduk menghadapnya yang berdiri didepan pintu kamar.

“Apa aku tidak sopan?” Tanya.

“Iya. Sangat.” Jawab Jessica. Dia hanya menjawab asal.

“urghhh”

Taeyeon kembali merebahkan dirinya. Menatap langit-langit kamar Jessica, dia mengambil bantal lalu menutupi wajahnya.

“Ada apa?” Tanya Jessica mendekat duduk disisinya. Perlahan dia mengambil bantal yang menutupi wajah Taeyeon.

Taeyeon hanya menatapnya.

“Apa kau muak berteman dengan ku? Dengan sifatku ini? Apa aku tanpa sadar memaksa mu berubah mengikuti kemauanku?” Tanya Taeyeon padanya mengabaikan pertanyaan sebelumnya.

“Kau bicara apa?” Bingung Jessica.

“Jawab aku..” Cibir Taeyeon. Dia butuh jawaban. Karena pernyataan Tiffany sebelumnya menjadi pikirannya. Dia bahkan berfikir mungkin kerena sifatnya lah dia bahkan hanya memiliki Jessica sebagai teman dekatnya. Orang lain disekitarnya hanya segan dan hormat kepadanya, dia tidak tau apa yang sebenarnya mereka pikir tentang dia. Sombong? Tidak sopan? Atau Jahat?. Karena selama ini dia tidak memikirkan orang lain, dia hanya melakukan semuanya sesuai keinginannya.

“Kau sudah gila” Acuh Jessica menutupi kembali wajah Taeyeon dengan bantal yang dipegangnya.

“Jessica” Ucap Taeyeon kembali.

Jessica menatapnya serius, “Dengar..aku tidak tau setan apa yang merasuki pikiranmu sekarang. Tapi yang jelas, aku berteman denganmu karena kau Kim Taeyeon. Kau punya sifatmu sendiri, kepribadianmu sendiri dan menurutku itu tidak masalah denganku. Satu dan yang penting kau ingat..” Jessica menyentuh lembut pipi Taeyeon, “Aku tidak pernah muak denganmu dan tidak akan pernah” senyumnya diikuti senyum Taeyeon.

“Itu melegakan” komentar Taeyeon. Gadis gila itu hanya bicara omong kosong!

Jessica berdiri dari tempatnya.

“Aku mau mandi, sebentar lagi aku akan pergi..kau pergilah dari sini” ucapnya ke Taeyeon.

“Kau mau kemana? Hari ini aku mau disini denganmu” Tolak Taeyeon.

“Aku dapat pekerjaan baru” senyum Jessica, “Jadi, sekarang aku sibuk.”

“Aku berani bertaruh kau tidak akan lama bekerja disitu..” senyum Taeyeon juga diikuti tatapan tajam Jessica.

“Aissh santai Jessica Jung..” Takut Taeyeon, “Lagian kenapa kau tidak bekerja diperusahaan ayahku saja sih, dia kan sudah menawarimu” lanjut Taeyeon lagi.

“Aku tidak betah bekerja seperti itu..” Jawab Jessica malas, “Aku akan mencari pekerja sendiri.”

“Tapi, sica..” Bantah Taeyeon.

“Ah aku sudah telat.. Aku mandi dulu. Dan kau?” Tunjuknya..”Harus sudah pergi” lalu dia berbalik meninggalkan Taeyeon.

“Aku benci kau Jessica Jung” omel Taeyeon beranjak pergi.

“Aku juga menyukaimu..” Sahut Jessica dari kamar mandi.

“Jadi mulai sekarang kau bertugas sebagai pelayan disini, catat dan antarkan pesanan dari tamu yang datang. Ingat kedisiplinan sangat penting disini, ini untuk kemajuan cafe kita” Ucap manager cafe didepan Jessica. Dia baru saja keterima menjadi pekerja dicafe tersebut. Cafe nya tidak terlalu besar tapi juga tidak kecil dan yang terpenting suasana disana nyaman pengunjungnya juga tidak terlalu ramai membuat Jessica berpikir dia pasti betah berkerja disitu.

Jessica mengangguk agar terlihat mengerti lalu mr. Kim sungmin memberikan seragam dan pin namanya.

“Berkerjalah dengan rajin” senyumnya.

“De. Gomawo” Tunduk Jessica.

Dia mulai berkerja mendatangi meja tamu yang baru datang, karyawan di cafe itu tidak terlalu banyak dia bahkan sudah mengenali mereka. Semuanya aman baginya.

“psst..” panggil seseorang. Jessica menoleh kearah suara itu.

“Kau pelayan baru?” Tanya orang itu, dia menyembunyikan mukanya dibalik buku menu. Jessica hanya melihatnya tanpa ekspresi.

“Mr. kim sungmin nya dimana? Ada didalam?” Tanya orang itu lagi.

Jessica mengangguk.

“Oh..syukurlah..” Dia buru-buru berlari keloker ujung memakai seragam kerja nya dan tersenyum kearah Jessica.

“Gomawo..hampir saja aku ketahuan telat oleh bos hehe”

Jessica membalas senyum, lalu berteriak.

“Mr. Kim Sungmin kau mempunyai pelayan yang telat..”

“Hey..sssst” panik orang itu mencoba sembunyi.

“Kwon Yuri!” Teriak manager cafe kearah Yuri.

Yuri berdiri menunduk mendegar ceramah kedisiplinan dari manager cafe hari itu. Karena ini adalah telatnya yang pertama jadi dia di beri kesempatan lagi. Tapi tetap saja Yuri kesal seharusnya dia tidak ketahuan jika saja gadis itu tidak memberi tahu.

Selesai diceramahi dia menatap Jessica yang mengatarkan makanan dengan senyuman lalu tatapan mereka bertemu. Jessica tersenyum kearah nya.

“Kedisiplinan sangat penting disini, ini untuk kemajuan cafe kita. Mohon bantuannya..” Dia melihat pin nama Yuri,”..Kwon Yuri.” Hormat Jessica lalu pergi meninggalkannya sambil tertawa kecil melihat raut muka kesal Yuri.

“Urgh..Jessica Jung..” Kata Yuri setelah berhasil melihat pin nama Jessica.

Pagi hari itu Tiffany berdiri didepan gerbang universitas mereka, dia menunggu Kim Taeyeon mahasiswi jurusan Manajemen bisnis tingkat II, Kim Taeyeon juga merupakan anak dari pemegang saham terbesar kampus mereka. Selain itu dia juga mahasiswi dengan prestasi nomor 1 dijurusannya.

Gedung kampus mereka berbeda, Tiffany mengambil Jurusan seni, dimana dia bisa mengembangkan dirinya. Mengeluarkan kreatifitasnya. Jadi untuk bertemu dengan Taeyeon lagi dia harus menunggu di depan gerbang, semua mahasiswa disana memakirkan kendaraan mereka diluar. Tiffany berharap dia bisa menemui Taeyeon dengan disitu.

Hampir setegah jam dia menunggu, tapi sama sekali tidak terlihat keberadaan Taeyeon.

“Ini demi Yuri..demi Yuri..” sabarnya sendiri sambil bolak balik, sesekali dia melihat jam tangannya. Hari itu dia ada kelas pagi jam 9, sekarang sudah jam 9 kurang.

“Mungkin dia tidak ada kelas” pikir Tiffany, baru saja dia ingin berbalik saat Taeyeon dengan santainya melalui dia.

Taeyeon saat itu berpakai seperti biasa, sangat rapi dan anggun. Cocok dengan diri dan citranya. Dia terlihat sangat menawan.

“Coba saja sifatnya sebagus penampilannya” gumam Tiffany.

“Hey..tunggu” Panggil Tiffany berlari kearahnya. Taeyeon menoleh dan kaget melihat Tiffany. Dia mundur beberapa langkah karena Tiffany berdiri dekat dengannya.

“Dia memiliki wangi yang baik” Pikir Taeyeon.

“Mau apa kau?” ketus Taeyeon.

“Aish..apa kau tidak tau menyapa dengan sopan.” Kata Tiffany melihatnya kesal, “Haii..seperti itu..”

“huh? Apa perlunya aku menyapamu” datar Taeyeon.

“Sudahlah..” pasrah Tiffany, “hmm aku datang karena aku mau mengajak mu berdamai”

Tiffany mengulurkan tangannya, lalu tersenyum semanis mungkin.

“Kita berdamai ya?” pinta Tiffany.

Taeyeon hanya memandangnya tanpa ekspresi, tidak menghiraukan apa yang Tiffany katakan. Ini hanya terlalu mengagetkan baginya, apa gadis gila ini sudah mendapatkan obatnya..

“Tangan ku pegal” cibir Tiffany. Dia masih mengulurkan tangannya didepan Taeyeon. Taeyeon melihat tangan itu lalu menatap Tiffany lagi.

“Kau memang gila” komentar Taeyeon meninggalkannya.

“Tunggu..”

Tiffany kembali berdiri didepan Taeyeon, dan mengulurkan tangannya.

“Itu tidak sopan, meninggal kan orang dalam kondisi seperti ini. Aku mengajakmu berdamai..” kata Tiffany lagi. Dia melihat jam tangannya, 5 menit lagi kelasnya akan dimulai.

“Ayolah..sebentar lagi kelas ku dimulai..” rengek Tiffany.

Dengan malas Taeyeon menjabat tangannya cepat.

“Sudah?” Tanya Taeyeon polos.

“Iya..sudah” Jawab Tiffany. Dia tersenyum senang..

“Aku pergi dulu.. Sampai jumpa Taeyeon-shi” Hormat Tiffany sebelum berbalik dengan senyum senang terukir diwajahnya.

Taeyeon tertawa kecil melihat Tiffany dari belakang.

“Gadis itu lucu juga” komentarnya terus memperhatikan Tiffany menjauh.

Dilain sisi Tiffany berlari memegang tangannya yang dijabat oleh Taeyeon. Dia masih tersenyum sepanjang jalan menuju kelasnya.

“Babak pertama berhasi Yul” gumam Tiffany.

“Taeyeon..Kim Taeyeon..Taeyeon hehe” tawanya sendiri mengingat muka heran Taeyeon saat memandangnya tadi.

.

.

.

Bersambung

Yulti?
Taeny?
TaengSic?
Atau YulSic?
Tapi aku lg suka SooFany sm SooSica hmm

Gomawo^^

FICTION

FICTION

Tiffang hwang, 20thn.
(unnie ny author^^)

Perempuan berambut warna merah dengan wajah cantik, memiliki eyesmile, otak cerdas, tinggal serumah dengan Yuri dan sangat menyukai Yuri bahkan rela melakukan apapun demi dia. Oiya, ia yatim piatu. Hanya Yuri yang dia miliki sehingga membuatnya tidak ingin kehilangan Yuri. Intinya, Yuri segalanya.

Kim Taeyeon, 21thn.

Dia Kaya, idola, sangat teladan dalam segala hal, pintar, harus terlihat sempurna. Kebanggaan orang tua nya. Benci awalnya dengan Tiffany tetapi saat dia mulai menyukai gadis itu secara tidak sadar dia mulai melanggar motto nya.
Motto : “Jangan buang waktumu untuk hal yang tidak penting!”

Kwon Yuri, 21 thn.
(choi eliana eh anna)

Teman serumah Tiffany, tidak suka di atur dan diperintah. Sangat benci dengan Taeyeon. Dia menyukai Tiffany tapi lebih mementingkan rasa benci nya sehingga membuat dia jadi memperalat gadis itu. Protektif dengan Tiffany. Bekerja keras untuk mencari biaya kuliah Tiffany.

Jessica Jung, 21thn.
(Unnie ny soojung f(x) -,-)

Teman dekat Taeyeon dari kecil, ice princess, cuma Taeyeon yang tau sikap lembut tersembunyinya. Benci saat Taeyeon mulai membicarakan Tiffany menurutnya Tiffany hanya akan membawa masalah. Mencurigai keberadaan Tiffany disekitar Taeyeon. Diam-diam menyukai Taeyeon. Hidup sederhana dan berkerja di cafe.

Suara berisik awalnya tidak membuat Yuri membuka mata dari tidurnya, dia hanya membiarkan itu tetapi ketika bau asap terhirupnya dia langsung terbangun siap.

Yuri berlari cepat keluar kamar menuju kamar satunya, membuka kasar pintu dan melihat ranjang berantakan dengan selimut berserakan dilantai.

“oh god” gumamnya kemudian berlari menuju ruang tamu sederhana nya.

“Tiffany! Tiffany!” Teriak Yuri sambil mengibas-ngibas asap yang menutupi pandangannya. “ku harap dia tidak di makan api ya tuhan..huk..huk..Tiffany!” panggilnya lagi.

Dari arah dapur dia mendengar suara orang yang batuk, Yuri langsung berlari cepat ke arah suara itu.

Tiffany sedang mencoba mengangkat sesuatu dengan susah payah dia mengangkatnya serta batuk-batuk karena asap yang ditimbulkan. Setelah berhasil meletakan semua di atas meja dia berdiri mematung memandangnya.
Yuri yang baru datang dengan wajah panik karena mengira rumahnya terbakar berdiri didepan diTiffany memandang meja makan mereka.

“Tiff” Panggil Yuri pelan ketika Tiffany melihatnya. Tiffany menunduk dengan muka kecewa.

“aku memang tidak berguna..” ucapnya. Air matanya mulai mengalir, “harusnya aku bisa memberi kejutan membuatkan mu sarapan..” lanjutnya lagi.

Yuri maju perlahan, asap diruangan itu sudah mulai menghilang. Dia melihat makanan hangus dan panci yang hitam dengan sesuatu yang tidak jelas di dalamnya tersusun berantakan di atas meja.

“Pabo tiffany..harusnya kau tidak tertidur..pabo..pabo..pabo!” omel Tiffany sendiri sambil memukul kepalanya. Rencana nya dia akan membuat sarapan pertamakalinya untuk Yuri hari itu. Jadi dia pagi-pagi sudah bangun, karena harus menunggu hasilnya tanpa sadar dia ketiduran dan terbangun saat mencium bau asap. Tentu saja masakanya semua sudah hangus.

“Hey hentikan..” Yuri menahan tangannya dan memaksa Tiffany melihatnya. Senyuman terukir dibibirnya. “gomawo” ucap Yuri tulus.

“Aku kan gagal..” ucap Tiffany disela isak tangisnya masih menatap Yuri polos, “tiap hari kau selalu membuat sarapan yang enak untuk ku, aku juga ingin membuatkan untukmu. Aku tidak pernah memberi mu sesuatu”. Dengan pelan Yuri menghapus air matanya.

“Tapi kau tidak gagal membuat hatiku gembira… Ini hari paling menyenangkan bagiku.” senyum Yuri. Mendengar itu Tiffany langsung memeluknya erat. Yuri membalasnya, mengelus halus rambut tiffany menghirup wangi asap ditubuhnya, dia berbisik ditelinga Tiffany membuat gadis yang memeluknya itu merona, “Gomawo fany-ah” ucap nya lembut kemudian mengecup kepala gadis itu.

Tiffany hanya berbisik pelan, suaranya bergetar di pelukan Yuri karena bahagia yang dirasakanya.

“saranghae..”

Tiffany mensejajarkan jalannya di samping Yuri, dia melirik kesamping sambil terus menjilat es crim yang hampir meleleh ditangannya.

Hari itu Tiffany memaksanya keluar, dia berjanji mentraktir Yuri. Meski pun Yuri awalnya menolak tapi akhirnya menyerah juga karena Tiffany terus merengek didepannya.

“Apa kau senang?” Tanya Yuri menyindirnya.

Tiffany hanya memberikan eyesmile terbaiknya sebagai jawaban, diikuti dengan senyum Yuri selanjutnya.

Mereka masuk kesalah satu restoran mewah yang ada.

“Tiff, apa kau yakin kita makan disini?” Tanya Yuri tidak Yakin.

“yap” senyum Tiffany.

“Apa kau punya uang? Makanan disini tidak murah fany-ah..” Lanjut Yuri lagi. Tiffany berbalik menghadapnya.

“Tenang saja..aku sudah mengumpulkan uang dari aku kecil untuk hari ini Yul..kajja!” Semangatnya menarik Yuri masuk.

“Kau berlebihan” gumam Yuri tertawa dari belakang.

Mereka duduk sambil bercanda menunggu makanan mereka datang saat perhatian Yuri terpaku pada sebuah berita yang disiarkan di TV.

“Anak dari pengusaha kaya raya dinegara kita ms. Kim Taeyeon telah kembali dari jepang setelah mewakili korea selatan sebagai duta korea yang berhasil membuat banyak negara menjadi tetarik berkerja sama dalam bidang bisnis, pariwisata, pengajaran dll. Kita sungguh bangga akan keberadaannya di negara kita ini..”

Yuri mengepalkan tangannya kuat.

“Apa yang mereka lihat dari nya, dia hanya dibantu orang tuanya tanpa kekayaannya dia tidak akan bisa seperti itu”

Tiffany menatap layar kemudian mengalihkan pandangannya kearah Yuri lagi, menatapnya heran.

“Dia hanya beruntung karena memiliki bakat mencari mukanya.. Beruntung karena terlahir kaya raya”

Yuri terlihat sangat marah, mukanya memerah dengan tangan yang mengepal kuat menahan emosi nya.

“Dia siapa?” Tanya Tiffany pelan, dia takut jika tiba-tiba kemarahan Yuri keluar.

“Si muka dua..seharusnya dia tidak ada didunia ini.” gumam Yuri.

Mereka terdiam sejenak, menunggu suasana kembali normal. Tidak lama makanan mereka datang. Yuri langsung memakannya dengan cepat, sementara Tiffany masih memandangnya.

“Aku ke toilet dulu” Kata Tiffany.

Dia bangkit dan berjalan menuju toilet dengan pikiran penuh dengan tanda tanya.

“Orang itu pasti pernah membuat Yuri terluka makanya Yuri tidak menyukainya” Pikirnya.

Dia terus berjalan saat di menabrak seseorang didepannya.

“arrggh” teriak mereka terjatuh.

Tiffany cepat-cepat bangkit melihat kondisi orang yg ditabraknya. Orang itu terduduk dilantai dengan baju yang basah karena minuman yang dibawa ikut terjatuh menimpanya.

“Mianhae..jeongmal mianhae..aku tidak sengaja” bungkuk Tiffany meminta maaf. Orang itu berdiri membersihkan bajunya dengan jijik lalu menatap Tiffany yang membungkuk mengulang terus menerus didepannya.

“aish..” desahnya. “Sudahlah. Tidak apa. Lain kali perhatikan saja jalanmu..” kata nya lalu berbalik meninggalkan Tiffany.

“Wow..” lega Tiffany. “Untung dia tidak menyuruhku mengganti pakaiannya..” Dia kembali menuju toilet. Kali ini pandangannya benar-benar waspada.

Sampai ditoilet di melihat orang itu lagi, berdiri didepan cermin wastafel mencoba membersihkan bajunya. Tiffany mengernyitkan alisnya.

“Sepertinya aku mengenal orang ini..” gumamnya. Dia maju selangkah melihat lebih jelas lagi. Orang itu menyadari kehadirannya. Jadi dia berbalik menghadap Tiffany.

“Muka dua!” teriak tiffany dalam pikirannya.

“Sudah aku bilang aku tidak apa, kau jangan merasa bersalah..kau pergi saja” Ketus Taeyeon, dia kembali membersihkan bajunya. Membasahkannya sedikit agar warna minuman yang melekat itu menghilang.

Tiffany yang memang kesal karena teringat Yuri yang membencinya ditambah omongan ketus orang itu membuatnya lupa untuk bersikap sopan.

Dia maju ke wastafel menampung air di kedua tangannya lalu menyiram kearah Taeyeon. Melakukannya berulang kali hingga Taeyeon yang kaget basah kuyup di seluruh muka dan bajunya.

“Yah!! Apa yang kau lakukan!” teriak Taeyeon menghindar.

Tiffany maju mendekatinya, “aku tidak pernah merasa bersalah, kau pantas mendapatkan itu!” geram Tiffany. Taeyeon terdiam terlalu kaget untuk mencerna omongan Tiffany.

Tiffany perlahan berbalik meninggalkan nya, tapi sebelumnya dia berbisik keTaeyeon.

“Kau beruntung, aku membiarkanmu lepas. Jangan berani buat masalah lagi..muka dua..” bisik Tiffany lembut tapi penuh dengan nada ancaman membuat Taeyeon merinding merasakan hembusan nafasnya. Setelah itu dia berbalik pergi meninggalkan Taeyeon yang bingung dengan keadaan basah.

“Yah gadis gila!” Teriak Taeyeon prustasi.

Tiffany tersenyum senang menghampiri kembali mejanya dengan Yuri.

“Kenapa lama sekali?” Tanya Yuri. Makanannya sudah habis sedari tadi.

Tiffany menyentuh tangannya yang di atas meja, senyum masih terukir diwajah.

“Aku habis memberi pelajaran kepada orang jahat” bangga Tiffany “Mulai sekarang kau bisa mengandalkan aku Yul, aku akan melindungi mu”, dia lalu memakan makanannya.
“Hmm..makanan ini jadi terasa sangat enak” senang nya. Yuri hanya melihatnya aneh.

“Kau membuatku takut Tiff” komentar Yuri.

Taeyeon keluar dari toilet menuju bagian belakang restoran nya, saat tiba-tiba suara panggilan menghentikannya.

“Taeyeon!” Panggil Jessica, matanya membesar melihat Taeyeon yang berantakan basah kuyup didepannya, “Apa kau benar-benar kim Taeyeon?” Tanyanya lagi sambil memperhatikan Taeyeon lebih dekat.

“Kau tau itu tidak lucu sica” kata Taeyeon mengalihkan pandangannya. Jessica melipat kedua tangannya didepan menggelengkan kepalanya.

“Tidak.. Ini sangat lucu. Kau itu Kim Taeyeon? Taeyeon yang selalu sempurna, sangat memperhatikan penampilan.. Tapi sekarang kau terlihat seperti seekor anak kucing yang tercebur dikolam haha” Tawa Jessica. Taeyeon hanya menggerutu mendengarnya.

“Apa kau mau dipecat?” ketus Taeyeon. Ya, Jessica adalah teman sekaligus perkerja direstoran milik keluarganya.

“Tidak masalah.. Lagian aku merasa tidak cocok dengan tempat ini” Jawab Jessica acuh.

“Tipikal Sica” Komentar Taeyeon, dia kembali menuju ruangnya dibelakang disusul Jessica.

“Serius Taeng, apa ini fashion mode yang kau dapatkan dari jepang..” Tanya Jessica lagi.

“Yah.. Berhenti berkomentar. Mood ku sedang tidak baik sekarang..” omel Taeyeon. Jessica hanya tertawa melihat reaksinya.

Beberapa menit kemudian Taeyeon keluar dari ruangannya setelah menutupi pakaiannya dibalik coat milik Jessica. Dia tidak memiliki pakaian ganti saat itu..

“kalau aku tau kejadian seperti saat ini akan terjadi pasti aku sudah membawa lemari pakaianku pindah, aku tidak perlu meminjam coatmu. Ini hari terburukku” katanya ke Jessica saat mengenakan coatnya dengan muka masam. Taeyeon orang yang selalu terlihat sempurna jadi untuk hal semacam ini merupakan hal memalukan untuknya.

Jessica hanya mengalihkan tatapannya malas menanggapi. Senyum kecil terukir dibibirnya melihat tingkah Taeyeon. Sangat cute menurutnya melihat Taeyeon dibalik coatnya yang agak kebesaran itu.

Taeyeon beranjak meninggalkan restoran di ikuti Jessica yang hari ini mengundurkan diri karena alasan tidak betah bekerja ditempat yang mewah. Dia lebih memilih tempat sederhana yang membuatnya bisa bersikap santai padahal awalnya dia yang meminta Taeyeon membantunya diterima berkerja disitu karena tempatnya berAC, sejuk jadi dia suka.

“Ms. Kim Taeyeon.. Anda sudah ingin pergi?” Sapa salah satu pegawai restoran dengan muka kecewa. Mereka sendang didepan pintu keluar.

Yuri sedang asyik mendengarkan cerita Tiffany dari tempat duduknya tapi karena meja mereka yang berada tidak jauh dari pintu keluar dia melihat Taeyeon di balik Tiffany yang menghadapnya.

“Taeyeon” gumam Yuri. Tiffany membalikan badannya melihat ke arah pandangan Yuri. Disana orang yang tadi telah diberinya pelajaran sedang berbincang dengan salah satu pegawai.

“iya, aku sudah harus pergi.. bekerja lah dengan giat ya jangan mengikuti mantan teman kerja mu seperti dia ini” canda Taeyeon menyikut Jessica.

“Yah! Apa maksudnya..” tatap Jessica tajam ke arahnya.

Taeyeon dan pegawainya lalu tertawa bersama. Sementara Yuri melihat mereka dengan marah. Semua yang dilakukan Taeyeon sangat cepat memancing emosinya.

“Dia masih disini” kata Tiffany tanpa sadar. Yuri melihatnya penasaran.

“Kau mengenalnya?”

“huh?” bingung Tiffany tidak mengerti.

Yuri lalu melihat ke arah Taeyeon lagi lalu ke Tiffany kembali, mengamatinya.

“A-a-ada apa?” heran Tiffany karena tiba-tiba Yuri menggenggam kedua tangannya.

“Tiffany..mau kah kau menolongku?” Pinta Yuri serius. Tiffany mengangguk. Apapun akan dilakukannya untuk Yuri terlebih lagi Yuri sendiri yang memintanya.

Yuri mengalihkan pandangannya ke arah Taeyeon yang masih menggoda temannya didepan pintu. Melihat Taeyeon yang tertawa senang didepannya, membuatnya tidak sadar menggenggam tangan tiffany dengan kuat.

Tiffany meringis kecil, menahan sakit.

“Dekati dia, buat dia jatuh cinta kepadamu, buat dia tergila-gila kepadamu hingga rela melakukan apapun lalu campakan dia…. Kembali lah kesisiku..” Ucap Yuri pelan dengan serius. Tiffany menatap wajah Yuri berharap ini cuma candaan, tapi tidak seperti yang diharapkannya. Membuatnya takut akan Yuri yang sekarang didepanya menggenggam tangannya dengan kuat. Dengan takut dia mendengar Yuri melanjutkan ucapannya.

“Aku ingin dia merasakan apa yang seharusnya dia rasakan..”

“..Aku ingin melihatnya..”

“..menderita.”

.
.
.
.

Bersambung.

Hallooooo
Masih kenal saya? hahaha
saya kembali^^

Say That PART 6 (Last)

    Part 6 : Chocolate Love (last)

“Apa kau melihatnya?” Tanya seorang pengawal kepada temannya.

“Tadi dia lari kesana..” Tunjuknya.

“Ayo cepat kejar dia..kalau tidak kita pasti dapat masalah..aish noona” Mereka berlari kembali mencari.

Dibelakang tembok Eunjung mengelus dadanya lega.

“huh syukurlah mereka pergi..” senangnya.

Dia mulai kembali berjalan ke arah yang berlawanan.

“Untuk apa sih mereka memaksaku kekantor, aku sudah bilang aku tidak mau..aku ingin bebas, biar ayah saja yang bekerja toh uangnya untuk ku juga” Gerutunya sambil mengacak-ngacak rambut.
“Party time yuhuuu!”

Jessica selesai mengemasi barangnya, hari sudah gelap.

“Jessica aku antar pulang yaa” Tawar Taecyeon. Dia sudah mengambil tas Jessica.

“ah oppa, tidak perlu aku bisa pulang sendiri” tolak Jessica mengambil kembali tasnya.

“Tapi..”

“Oppa kau antar kami pulang saja..” potong Sulli.

“Iya oppa..antar aku juga ya..” Ikut Amber. Mereka berdua menarik Taecyeon keluar ruangan, “semuanya kami pulang dulu yaa, byee”

“Aish kalian berdua bisa pulang sendiri..aku mau menjemput pacarku!” omel Taecyeon. Tapi Amber dan Sulli terus menggandengnya.

“Oppa bisa menjemputnya setelah mengantar kami..” senyum Sulli.

“Tapi kita singgah makan dulu yaa” sahut Amber.

“Mwo??”

“Tenang..oppa yang traktir ahaha” goda mereka.

Jessica dan Gyuri ikut tertawa melihat Taecyeon yang mengeluh.

“Kau belum mau pulang?”

Gyuri masih duduk dikursi membuka-buka berkas dimeja.

“oh aku masi ada kerjaan..kau pulang saja duluan”

“Jangan terlalu lelah..”

“de” senyum Gyuri.

“Kalau begitu aku duluan..annyeong” pamit Jessica.

“Hati-hati”

Jessica keluar dari gedung dan berjalan kedepan untuk mencari Taksi, salju sudah mulai turun menyelimuti jalan.

Dia mengeratkan mantelnya.

“tiit..tiitt..tiit” Dia menoleh kebelakang melihat Yuri dengan motornya tersenyum manis kearahnya. Yuri menjalankan motornya pelan kesamping Jessica.

“Kau keluarnya lama sekali..” Kata Yuri menyapanya. Jessica meneruskan jalannya diikuti oleh Yuri dengan motornya.

“Untuk apa kau disini?” Tanya Jessica tanpa melihatnya.

“Untuk apa lagi..kalau bukan menjemput pacarku..” senyum Yuri.

“Pacarmu? Huh pergi lah sana” acuh Jessica sebenarnya dia senang mendengar Yuri masih menganggapnya pacar tapi egonya terlalu besar untuk mengakui.

“Kau tidak lelah berjalan terus..”

“bukan urusanmu”

“Nanti kakimu sakit loh..”

“bukan urusanmu”

Jessica berhenti untuk melihat taksi, tapi tidak ada satu pun yang lewat.

“Aish kemana sih taksi-taksi sekarang, apa semua sudah berhenti bekerja..dasar pemalas!” omelnya. Yuri tertawa kecil melihat kelakuannya.

“Apa yang lucu?!” Dingin Jessica membuatnya langsung terhenti. Dia turun dari motornya, membawa helm dan memasangkannya dikepala Jessica.

“Aku antar yaa..ayoo” gandeng Yuri menuju motor. Jessica mencoba melepaskan tangannya.

“Aku tidak mau!”

“Jangan menolak, ini sudah malam.. Tidak baik pulang sendiri, aku tidak mau terjadi apa-apa terhadap orang yang aku cintai..”

Yuri menaiki motornya, Jessica awalnya tidak mau naik tapi Yuri memaksanya lagi jadi dia akhirnya naik juga. Mereka melaju pelan menuju apartement Jessica.

“Huh malam ini dingin sekali..” Yuri mengambil tangan Jessica dan meletak kannya di pinggulnya.

“Kau..aish” marah Jessica menarik kembali. Yuri tidak kehilang ide dia sedikit menambah kecepatan motornya hingga Jessica tanpa sadar langsung memeluknya.

“Haha beginikan jadi hangat” senyum Yuri mengencangkan pelukkan Jessica. Jessica dibelangkang diam-diam tersenyum. Dia rindu..rindu bersentuhan dengan Yuri.

Jessica merebahkan kepalanya dibahu Yuri, menikmati malam itu.

Gyuri sedang minum minumannya dimeja sebuah bar. Dengungan musik yang kencang membuatnya nyaman melepaskan semua masalahnya. Tentang ibunya..Yuri..Jessica..perkerja semuanya.

“Minuman terakhir ini, akan membawa semuanya pergi..aku akan melupakan semuanya” katanya setengah mabuk. Dia kembali minum.

Di samping seorang gadis, terus memperhatikannya.

“Apa kau sudah melupakannya?” Tanya tiba-tiba. Gyuri menoleh melihatnya kemudian kembali dengan minumannya, mengacuhkan gadis itu.

“Kau belum melupakannya ya?” Tanya gadis itu lagi penasaran, dia bergeser dekat kearah Gyuri memperhatikannya.

“huh pergi sana..” Tolak Gyuri yang sedang mabuk.

“Kau sudah mabuk? Kau sudah minum berapa banyak?”

Gyuri bangkit, mencoba pergi tapi hampir terjatuh. Jadi gadis itu cepat membantunya.

“huh siapa kau..jangan mengganggu ku?! Pergi sanaaaa” tolak Gyuri.

“Kau mabuk, berjalan saja tidak bisa..aku antar kau pulang..” Gadis itu membuka tasnya mencari alamat dan mengambil kunci mobil. Setelah menemukan mobil Gyuri, dia memasukkan Gyuri di kursi penumpang. Dia mulai menyetir menuju rumah Gyuri.

“arghh aku akan melupakanmu..kita tidak bisa bersamaa..kenapa kau tidak mencintaiku saja dari dulu” oceh Gyuri, gadis itu memperhatikannya dari spion.

“Kau..aku..saudara..kau hanya menganggapku unniemu..tapi aku mencintai muuuu~” melihat Gyuri yang bertingkah aneh, gadis itu tertawa. Gyuri duduk tegak menunjuknya.

“Kau?? Kenapa kau tertawa..aku tidak mengenalmu!?” omel Gyuri.

“kau lucu” komentar gadis itu.

“Dasar orang aneh..aku tidak mengenalmuuu~aku mau pulang..” rengek Gyuri kembali perlahan dia mulai tertidur.

“Yul..aku sudah melupakanmu~” ucapnya terakhir sebelum terlelap.

Gadis itu kembali tersenyum, “Kau sudah melupakan masalahmu.” Senyumnya. Dia kembali melihat Gyuri dari spion.

“Kenalkan nama ku Eunjung..Ham Eunjung, sekarang kau sudah mengenalku kan.” dia melihat kartu identitas Gyuri.
“Namamu Park Gyuri..kita sudah bukan orang asing lagi. Senang berkenalan denganmu Gyuri..” Lanjutnya tersenyum lebar.

Yuri mengatar Jessica sampai kedepan pintu apartementnya, sebenarnya dia masih ingin bersama dengan Jessica. Tapi dia pikir Jessica pasti lelah terlebih lagi Jessica masih marah padanya.

“uhmm kalau begitu aku pulang dulu..” kata Yuri kaku. Dia memeluk Jessica cepat, kemudian berbalik. Jessica menahan lengannya.

“Masuklah..diluar sangat dingin, kau bisa pulang besok” ucap Jessica pelan.

Yuri tersenyum senang, “Aku tidak mau merepotkan..lagipula kau kan masih marah denganku..”goda Yuri.

“Yasudah..pulang sana.” Kata Jessica cepat, dia tau kalau Yuri menggodanya. Dia berbalik membuka pintu disusul Yuri yang ikut masuk.

“Bukannya ku suruh kau pulang!”

“aish..aku mana mungkin menolak untuk tidur dengan pacarku lagi..” goda Yuri lagi sambil menggerak-gerakkan alisnya. Wajah Jessica merona merah..dia menginjak kaki Yuri sebelun berlalu pergi.

“Siapa bilang kau tidur dengan ku..tidur di sofa!”

“Awww..sicaaaa~” rintih Yuri.

Setelah selesai mandi, Yuri merasa segar dia menggunakan piyama yang disediakan Jessica untuknya. Setelah itu dia mulai membuat makanan didapur.

Yuri membuka kulkas dan mencari sesuatu untuk dimakan.

“Tentu saja dia tidak memiliki bahan makanan..”senyum Yuri. Dia menemukan mie ramen di lemari dan mulai memasaknya. Setelah selesai dia memanggil Jessica dikamar.

“Sicaaa~” ketuk Yuri. Mendengar tidak ada jawaban dia memutuskan langsung masuk saja.

“Sica..” panggilnya lagi. Dia menemukan Jessica yang tertidur lelap di ranjangnya.

“Kau manis sekali sica..aku merindukanmu..” Katanya memperhatikan. Perlahan dia mendekati Jessica dan mengecup dahinya.
“Aku mencintaimu” Yuri tidak bisa menahan dirinya, dia mendekat kearah bibir Jessica perlahan namun tiba-tiba Jessica membuka matanya. Yuri langsung kaget dan bangkit dengan cepat.

“K-k-kau bangun..” gugupnya. Jessica menatapnya heran.

“hmm..kenapa kau disini?” bingung Jessica. Dia menguap dan mengusap matanya mengantuk. Yuri tersenyum melihatnya.

“Aku membuat makanan..makan dulu sebelum tidur..” Katanya lalu membawa Jessica keluar bersamanya.

Mereka berdua duduk berhadapan di meja makan. Makan dengan tenang, tapi diam-diam saling mencuri pandang. Saat Yuri memergoki Jessica meliriknya dia langsung kembali makan dengan cepat. Hingga terbatuk.

“Makannya pelan-pelan hehe” Kata Yuri memberikan minuman, Jessica meminumnya hingga habis.

“Aku sudah selesai.” Ucapnya berdiri.

“Aku duluan tidur..selimut dan bantal sudah ku sediakan disofa..” Jessica berjalan kekamarnya, tanpa melihat Yuri. Dia malu mengakui kalau dia juga sangat merindukan Yuri.

“Tunggu”

Yuri memeluknya dari belakang, menyandarkan kepalanya dibahu Jessica. Sedangkan Jessica masih berdiri tegap gugup ditempatnya.

“Aku hanya mencintai mu Sica..dari dulu hanya dirimu. Maaf kalau aku terlambat menyadarinya..maaf membuatmu terluka. Aku ingin mengulang semuanya..bersamamu kembali. Aku merindukanmu..” Ucap Yuri lembut.

“Aku tau..kau pantas marah dengan ku, tapi jangan membuatku menunggu terlalu lama Sica..aku tidak tahan melihatmu dingin terhadapku, itu menyakitkan..aku hanya ingin kau tau kalau aku mencintaimu.” Yuri membalikan tubuh Jessica menghadapnya.

Dia kembali mencium lembut dahi Jessica, “Selamat malam princess..Aku merindukanmu. I love You” Dia tersenyum lalu pergi membersihkan bekas makan mereka. Jessica masih berdiri ditempatnya memperhatikan Yuri dari belakang.

Jessica bolak-balik ditempat tidurnya, dia masih memikirkan Yuri. Jantungnya berdegup sangat cepat. Perlahan dia keluar dan menuju sofa dimana Yuri sedang tidur. Dia memperhatikan Yuri yang sedang terlelap.

“Aku juga merindukan mu Yul..” Senyumnya. Dia menunduk dan memastikan Yuri benar-benar sedang tidur. Dengan lembut dia mengecup bibir Yuri.

“I love you” katanya pelan lalu kembali kekamarnya. Tanpa disadarinya, Yuri tersenyum ditempatnya. Dia membuka matanya perlahan, menyentuh bibirnya.

“I love you too sica~”

Gyuri bangun merasakan kering ditenggorokkannya..dia duduk menyandarkan badannya disandaran tempat tidur.

“uuuh kepala ku pusing..”

“Kau sudah bangun?” Eunjung duduk disofa didalam kamarnya, memperhatikan Gyuri.

“Arggh siapa kau?!!” teriak Gyuri kaget. Dia mencoba melempar Eunjung dengan bantal yang disampingnya.

“Kau tidak ingat semalam??” Tanya Eunjung mendekat.

“Semalam apa? Kau siapa? Kenapa kau ada dikamarku..” dia terhenti..”Kenapa aku ada disini?!” Ingatnya kembali. Semalam dia sedang di Bar minum dan minum hingga mabuk lalu..kenapa aku ada disini?!

“Kau sudah ingat siapa aku?” Tanya Eunjung lagi. Gyuri menggeleng cepat. “Kau siapa?”

“Aish semalam kau mabuk, aku yang mengantar mu pulang kemari dengan mobil mu..kau tau kau harus mulai diet, kau berat sekali.” canda Eunjung. Dia mendekat menghadap Gyuri. “Kepala mu masih pusing?”

“Jauuh sana..” Tolak Gyuri, Eunjung kembali duduk dan tertawa.

“Dengar..apapun itu, aku berterimakasih kau mengantarku pulang. Sekarang kau boleh pergi..berapa yang harus kubayar?” Gyuri mencari tas nya dan mengambil dompet bermaksud memberikan uang.

“Hey aku tidak butuh uangmu!” marah Eunjung.

“Jadi kau mau apa?”

“Aku hanya ingin berkenalan dengamu..” senyum Eunjung. “Nama ku Eunjung” Kenalnya. Dia masih duduk tersenyum, “Kau tidak perlu mengenalkan nama mu..aku sudah tau. Park Gyuri, 21 mei 1988. Kau sudah punya pacar?” Tanyanya lagi dengan percaya diri. “Aku mau memberimu kesempatan untuk dekat denganku.”

“heh?” Gyuri terpaku melihatnya. Dia tidak menyangka gadis didepannya ini akan berbicara panjang dengannya.

“Kenapa? Kau tidak yakin dengan ku.. Kau mau kita jalan dulu..ok hari ini kita date” sambungnya.

Gyuri bangun, dia berdiri melihat jam.

“uh aku tidak punya waktu meledeni orang sepertimu..sekarang kau keluar. Aku sudah telat untuk bekerja.” usirnya. Dia mendorong Eunjung keluar.

“Kau bekerja? Bekerja dimana..biar aku antar..”Kata Eunjung.

“Sudah pergi sana..” Usir Gyuri.

“Dasar gadis aneh” gumamnya.
Setelah berhasil mengusir Eunjung dia cepat mandi dan bersiap kerja.

Jessica berdiri didepan kantornya, hari ini dia diantar oleh Yuri.

“Gomawo” ucapnya pelan.

Yuri hanya tersenyum, “Pulang nanti aku jemput lagi..”

“Jangan..” Tolak Jessica.

“Kau masih marah..Sica aku sudah bilang kalau aku minta maaf. Aku hanya mencintaimu..please beri aku kesempatan..”
“Bukan itu maksudku..”potong Jessica, “Nanti malam kita bertemu dicafe kemarin..” Kata nya menunduk. Dia malu harus mengatakan itu.

“huh? Kenapa?” bingung Yuri.

“Datang saja..” datar Jessica malas. Ditanya seperti itu, muka nya serasa panas menahan malu.

“kau mengajakku kencaaaaan~”goda Yuri mengerti.

“ish” marah Jessica. “yasudah tidak jadi!”

“Eh baiklah. Aku pasti datang~” dia mengecup pipi Jessica cepat lalu berlari kemotornya.

“Yey kencan dengan myPrincesss!” senang Yuri berteriak. Jessica tertawa kecil melihat tingkahnya.

Dia masuk kekantor melihat Gyuri belum datang.

“Gyuri belum datang?” Tanyanya.

“Belum.”

“Tumben dia telat” tambah Amber.

Taecyeon masuk saat Jessica duduk, dia menyapa sebentar lalu melihat ke meja Gyuri.

“Gyuri belum datang?” Tanyanya. Yang lain menggeleng.

“Sebentar lagi ada rapat atasan mengenalkan anak direktur.” Jelas Taecyeon.

Tidak lama Gyuri datang.

“Gyuri kau harus cepat ke ruang rapat, hari ini ada rapat pengenalan anak direktur dan pemilihan siapa yang membimbingnya.”

“Sekarang?” Tanya Gyuri.

“Iya. Cepat sebelum telat.” omel Taecyeon.

Dengan malas Gyuri masuk keruang rapat, disana sudah berkumpulan atasan-atasan setiap devisi dikantor itu. Dia memilih duduk dibagian agak belakang, setelah menyapa beberapa orang dia menunduk kan kepalanya di atas meja.

“Bir bodoh..kepala ku jadi pusing” gerutunya sendiri.

Rapat dimulai tapi anak dari direktur belum juga datang. Tidak lama pengawal dari direkturnya masuk.

“Pak..kami sudah menemukannya..” katanya sedikit berbisik.

“Bawa dia masuk sekarang”

Pintu terbuka dan pengawal masuk membawa seorang gadis yang mencoba melepaskan diri.

“Lepaskan! Sudah aku bisa jalan sendiri..tenang aku tidak akan kabur ish” marahnya.
Dia duduk dibagian depan disamping ayahnya.

“Perkenalkan ini anak saya, dan yang nantinya akan menggantikan posisi saya menjabat perusahaan ini..mohon kalian semua membimbingnya..”

Dia mulai berdiri.

“Nama saya Ham Eunjung..Mohon bantuannya”Katanya terpaksa.

“Diaaaa!” kaget Gyuri.

Eunjung melihat Gyuri, dia pun kaget namun berubah menjadi tersenyum melambaikan tangannya ke Gyuri.

“Aku ingin dia menjadi pembimbingku” Tunjuknya ke Gyuri.

Jessica ijin pulang kantor awal, dia ingin mempersiapkan untuk kencannya malam ini dengan Yuri. Setelah kesalon dan memilih gaun untuk digunakan. Dia singgah kesupermarket.

“Aku ingin membuat sesuatu untuk Yuri~” pikirnya.

Mencari-cari dan berpikir untuk membuat coklat saja. Setelah membeli berbagai keperluan dia cepat kembali ke apartemennya.

Setelah didapur, Dia membuka resep.

“Chocolate love” bacanya tersenyum.

Malamnya setelah beres dia bersiap menuju cafe. Dia tidak bisa bohong kalau saat itu jatungnya serasa akan meledak. Rasa nya seperti akan jatuh ke jurang dengan ketinggian beribu-ribu meter.

Saat masuk dia sudah melihat Yuri, duduk manis disalah satu meja. Suasana malam itu sepertinya mendukung, dengan lagu romantis yang sedang diputar terlebih lagi dekorasinya yang mewah dan indah.

“Kau cantik sekali~” Puji Yuri menyambutnya, dia mempersilahkan Jessica duduk didepannya.

“Kau juga” balas Jessica. Mereka bertatapan sebentar saling mengagumi.

“hmm aku sudah pesankan makanan..” Kata Yuri kaku. Ini pertama kalinya mereka kencan selama ini.

“Gomawo” Ucap Jessica juga tidak kalah kaku.

Mereka kembali bertatapan lalu tertawa bersama.

“haha rasanya kaku sekali bukan..muka ku seperti nya memanas” Lontar Yuri masi sambil tertawa.

“Iya..kita seperti baru kenal saja” Setuju Jessica.

Yuri menggeser tempat duduknya disamping Jessica. Dia menggenggam tangan Jessica, tersenyum terhadapnya.

“Aku senang bisa berdua lagi denganmu..” katanya serius.

Jessica tersenyum mengecup pipinya, “Jangan buat aku marah lagi..aku tidak ingin jauh darimu lagi..” balas Jessica.

“Aku janji” Ucap Yuri sebelum mencium lembut bibir Jessica.

Mereka mulai makan makanannya, setelah itu ikut berdansa sebentar mengikuti pasangan yang lain.

“Aku ada sesuatu untukmu~” Kata Jessica setelah mereka kembali kemeja. Dia mengeluarkan kotak coklat yang telah dibungkusnya dengan rapi.

“Apa ini?” Tanya Yuri penasaran.

“Buka”

Dia membukanya dan tersenyum senang menghadap Jessica.

“Coklat??”

“Aku membuatnya khusus..” Jelas Jessica, “Chocolate Love” senyumnya. Dia mengambil coklat berbentuk hati itu dari tempatnya dan menyuap Yuri.

“Enak?” Tanyanya semangat.

Awalnya Yuri tersenyum namun tidak lama raut mukanya berubah. Rasa coklat itu bukannya manis melainkan pahit sekali. Dengan terpaksa dia tersenyum kembali dan segera mengangguk.

“Benarkah? Kau suka?”

“Iya” senyum Yuri terus memakan coklatnya.

“Baguslah. Kalau kau suka aku akan rajin membuatnya untukmu..” Senang Jessica.

“hehe” nyengir Yuri. Ingat! Jangan sampai Jessica masuk kedapur lagi yul.

Dia berusaha mengabiskan coklat buatan Jessica, agar pacarnya itu tidak kecewa dan mencoba merasakannya juga.

“Lakukan demi cinta Yul. Chocolate love buatan Sica..spesial untukmu. Harus dihabiskan!” semangatnya sendiri dalam hati.

Eunjung dan Gyuri sedang duduk di salah satu tempat dibar. Sebenarnya Eunjung yang memaksa pembimbing barunya itu menemani nya seharian, tentu saja Gyuri menolak tapi ini perintah langsung dari direkturnya jadi mau tidak mau akhirnya dia bersama Eunjung juga.

“Kau tidak minum?” tanya Eunjung ke Gyuri yang cuma diam melihat-lihat orang yang menari.

“Tidak” Jawabnya datar.

“Kau marah padaku?” Tanya Eunjung lagi, dia duduk mendekat ke Gyuri. Gyuri kesal menoleh kearahnya tapi setelah melihat jelas muka Eunjung dia ingat gadis yang menabraknya diparkiran kemarin.

“Kau gadis itu, yang menabrakku?!!” Tunjuknya tidak percaya.

“huh?” heran Eunjung.

“Diparkiran..kau ingat saat kau menabrak lalu kau lari begitu saja..” Jelas Gyuri.

Eunjung mengingat sebentar, kemudian mengangguk.

“Ohh.. Aku ingat! Jadi itu kau..” senangnya.

Gyuri melihat kelain, malas.

“Iya itu aku dan kau gadis tidak sopan itu..Habis menabrak langsung lari begitu saja”

“Tapi aku sudah minta maaf” debat Eunjung.

“Hmm” malas Gyuri. Eunjung duduk didepannya memaksanya menatapnya, “Gyuri..aku benar-benar ingin mengenalmu, kau gadis yang menarik. Ini pertama kali aku seperti ini..ku harap kau mau berteman dulu denganku. Pleasee aku bersungguh-sungguh” kata Eunjung memelas.

Sebenarnya Gyuri tidak mempersalahkannya, menurutnya Eunjung gadis yang baik. Buktinya dia mengantarnya pulang kerumah tanpa melakukan apapun dia sopan meski kadang menyebalkan tapi dia baik juga…..manis.

Eunjung menyodorkan tangannya, memasang muka seimut mungkin.

“Teman?” pintanya. Gyuri tidak bisa menahan untuk tertawa.

“Teman” sambutnya setelah mereka bersalaman.

“Yuhuuuu” senang Eunjung. Dia lari ikut menari senang sambil melambai kearah meja Gyuri. Gyuri tersenyum memperhatikannya.

“Kurasa aku bisa mengenalmu lebih dalam lagi” gumamnya.

sementara itu, Yuri bergabung bersama Jessica di tempat tidur.

“Perutmu sudah tidak sakit lagi?” Tanya Jessica.

“Iya..sudah lumayan. Makanan dicafe tadi pasti penyebabnya..kita tidak usah kesana lagi..”

“Mungkin kau makan terlalu banyak” Tambah Jessica polos.

“uhuh makanan bodoh..”

Yuri memeluk Jessica, “Apa aku pernah mengatakan ini, Kau sangat cantik Sica.. Aku bangga jadi pacarmu. I love You” Ciumnya dibahu Jessica.

“yakin kau mencintaiku? Gyuri?” Tanya Jessica menggoda.

“Aish..aku kan sudah bilang, dia hanya unnie ku. Aku menyayangi sebagai unnie. Aku memang berjanji untuk menjaganya selalu ada disamping tapi untukmu..aku..cinta ku hanya untuk mu” bingung Yuri menjelaskan. Dia benar-benar prustasi menjelaskan perasaannya. Jessica tertawa kecil.

“Aku tau hehe”

“Kau mengerjaiku?” Yuri melihatnya yang tertawa.

“Tidak” bohong Jessica sambil tertawa lagi.

Yuri mulai mengelitiknya hingga dia terbaring tertawa keras. Yuri pindah keatasnya menatap Jessica yang mengatur nafas setelah tertawa.

Dia tersenyum merapikan rambut yang menutupi wajah Jessica.

“Aku mencintai mu Sica..hanya kau..kau percaya atau tidak, aku pastikan hatiku hanya berdebar kencang jika bersama. I love you”

“Aku juga mencintaimu Yul..” Jessica mengaitkan tangannya dileher Yuri, “Dari dulu hingga sekarang..aku mencintaimu..senang rasanya bisa mengatakan ini.” senyum Jessica.

“Katakan lagi..katakan itu..”pinta Yuri mengecup bibirnya.

“I love U” Kata Jessica lalu kembali mencium lembut bibir Yuri.

.
.
.

Tamat.

ahay akhirnya.. Setelah sekian lama hehe
Buat Gyuri aku sengaja ngasi dia pasangan, kasian juga kalau sendirian^^

Hari ini sudah masuk kuliah, tapi aku ga turun haha nambah libur dua hari. Besok baru mau balik..doakan selamat yaaaa

Valentine days?? Ada yang mau ngasi author coklat~???? ahahaaha

gomawooo^^

Komennya nanti dibalas kalo udah nyampe rumah..janji!

Say That Part 5

  • PART 5 : How Great is Your Love
  • Jessica masih menangis dikamarnya, menyendiri dan tidak keluar dari rumah. Dia terlihat sangat berantakan, sudah 3 hari sejak dia bertengkar dengan Yuri dan bahkan sekarang dia belum berganti pakaian. Urusan kantornya, sudah pasti tidak diperdulikan.

    “ts..ts..Yuri..” isak nya terus menerus.

    “Kata mu kau mencintaiku..kau menyayangiku..hiks..tapi sampai sekarang kau bahkan tidak berusaha untuk membujukku..hiks bagaimana aku bisa memaafkan mu..hiks..kau jahat kwon Yuri! Hiks..hiks..” Dia membanting semua barang-barangnya lalu terduduk lemas.

    “Datang lah kemari Yul..hiks..sekali saja..biar aku bisa memaafkan mu..hiks..dan kembali..hiks..aku mencintaimu..hiks..”

    ..

    “Yuri..ayo bangun..” Gyuri menarik selimut yang menutupi tubuh Yuri.

    “hey..makan lah dulu, dari kemarin kau belum makan” bujuk Gyuri.

    “hmm Aku tidak lapar unnie” Dia kembali menarik selimut menutupi seluruh tubuh hingga kepala nya. Matanya merah menangis seharian, dia berusaha menahannya tapi tidak bisa. “Jessica..”

    “Kau mau sakit lagi? Sudah 3 hari kau berbaring lemah disini..ayolah jangan begini” Gyuri kembali menariknya hingga Yuri duduk. Dia terkaget melihat mata Yuri yang memerah.

    “Yuri..”

    “Aku baik-baik saja unnie..mana makanannya” Yuri memakan makanan itu memasukkannya cepat kedalam mulut, selera makannya tidak ada. Yang dia cuma ingin segera berbaring lagi menangis dan mengenang kenangannya bersama Jessica.

    “Yuri..berhenti..” Gyuri mencoba menahannya makan, saat Yuri mulai batuk-batuk tapi masih terus melanjutkan makannya dengan cepat.

    “hok..hok..” Dia tidak memperdulikan Gyuri.

    “Yuri..berhenti!” teriak Gyuri lagi. Kali ini dia menarik paksa makanan itu hingga berhamburan kelantai.

    “Kau ingin membunuh dirimu sendiri! Kau pikir hanya kau yang menderita sekarang! Aku tau kau sangat kehilangan Jessica..dan itu semua salah ku. Aku yang seharus bertanggung jawab karena aku kalian berpisah. Jangan sakiti dirimu lagi Yul..marahi saja aku..” isak Gyuri, dia memeluk Yuri kencang.

    “Aku yang salah..marahi saja aku..jangan siksa dirimu sendiri”

    “Unnie..”

    Dia mentapa wajah Gyuri, menghapus air mata Gyuri.

    “Jangan menangis lagi..aku janji aku akan berubah..tapi unnie jangan menangis lagi..” Kemudian dia kembali memeluk Gyuri. Baginya memang Jessica yang terpenting tapi saat melihat Gyuri yang menangis seperti itu membuatnya tambah sakit. Biar cuma dia yang merasakan jangan Gyuri. Dia berjanji akan menjaganya..selalu..

    Jessica tidak berniat membuka pintu, mendengar ketukan. Dia tau itu Taecyeon yang dari kemarin berusaha menghiburnya tapi sayang yang dia butuhkan hanya ingin menyendiri.

    “Jessica..aku tau kau didalam, buka pintunya..” pinta Taecyeon dari luar.

    “Ok kalau kau tidak membuka pintunya..aku tidak ada pilihan kecuali memanggil security, atau bahkan mendobrak pintu ini” sambung Taecyeon lagi.

    “Aku serius Jessica..” Dia berhenti, ketika pintu perlahan terbuka.

    “Pergilah oppa..” serius Jessica. Taecyeon mendorongnya dan segera masuk. Dia terdiam melihat Jessica yang berantakan.

    “Kau seperti zombie” komentar Taecyeon.

    Jessica meninggalkannya, dia duduk disofa membenamkan kepalanya dibantal.

    “Hey Jessica..aku kemari bukan untuk melihat mu seperti ini..” Taecyeon mengangkat kepalanya, “lihat kau benar-benar terlihat seperti zombie..”

    “oppa..” tolak Jessica. Dia kembali merebahkan kepalanya, “aku tidak peduli..aku bodoh oppa..aku ingin mati rasanya..” tangis Jessica.

    “kau memang bodoh..untuk apa kau menangis terus menerus, itu tidak ada gunanya. Dengar..” Taecyeon mengangkat kepala Jessica lagi untuk melihatnya”..aku tidak tau masalahmu dengan Yuri, tapi berdiam seperti ini juga tidak ada gunanya. Kau hanya menyakiti, membuat dirimu berantakan. Come on sica..kau cantik, kau bisa mendapatkan yang lain. Aku? Lihat aku? Aku ada untuk mu disini” senyum Taecyeon. Jessica masih menatapnya, “hmm ok aku becanda, jangan lihat aku..tapi ayolah kau tidak perlu seperti ini.” sambungnya lagi.

    “Kau benar oppa..” Jessica berdiri, “aku tidak boleh begini terus..”

    “naaaaah”Lega Taecyeon dia tidak menyangka omongannya bisa dicerna juga padahal untuknya sendiri dia tidak mengerti. Taecyeon duduk melipat kakinya keatas melihat Jessica.

    “Sekarang ayo cepat mandi..” perintah Taecyeon.

    “Huh?”

    “Kita jalan sekaligus makan..kau pasti belum makan, aku juga sedang lapar..” Senyumnya.

    Jessica menatap Taecyeon ganjil.

    “Sudah sana cepat mandi zombiee..aku tunggu disini hush..” tolak Taecyeon. Jessica masuk kekamarnya. Sedangkan Taecyeon kembali duduk nyaman disofa. Dia mengeluarkan Handphonenya.

    To : Gyuri

    Mission one complate!
    Kami akan ke cafe..sampai bertemu disana.

    Send

    Dia tersenyum sendiri memikirkan betapa kerennya dirinya.

    “Aku sudah seperti seorang agent cinta.” gumamnya.

    Yuri memperhatikan makanan yang ada didepannya, makanan itu sangat banyak. Gyuri memaksanya keluar, untuk mengganti makan yang tadi dia jatuhkan.

    “Unnie..apa kau ingin membunuhku dengan makanan ini” Komentar Yuri masi memperhatikan makanannya sementara Gyuri sibuk dengan Handphonenya.

    “Unnie..sebenarnya ini tidak perlu. Aku sudah kenyang dan aku yakin meski pun aku memakan ini semua tidak akan habis” sibuk Yuri.

    Gyuri melihatnya tersenyum.

    “Kau makan saja..sudah beberapa hari kau tidak makan, isi perutmu hingga penuh.” ucapnya. Dia berdiri, “aku ketoilet dulu..ingat makan sampai perutmu penuh. Mengerti.” Lalu Gyuri pergi meninggalkannya. Yuri melihatnya aneh namun tidak mempersoalkannya. Dia mulai makan perlahan.

    Taecyeon dan Jessica memasuki cafe, Taecyeon menggandengnya. Dia melihat kesekeliling sesampainya didalam.

    “Oppa..apa yang oppa cari? Kita bisa duduk disini” Tunjuk Jessica dimeja yang kosong.

    “ah tidak. Disini terlalu terlihat..nanti bagaimana kalau wartawan sampai mengetahui kita disini. Bisa bahaya..” Ucap Taecyeon sembarangan.

    Jessica melihatnya aneh.

    “Hehe ikut saja dengan ku..kita cari tempat yang nyaman,” senyum Taecyeon, dia memperhatikan Jessica. “Kau cantik” Ucapnya tiba-tiba lalu menggelengkan kepalanya kembali melihat-lihat kesekeliling dengan cepat.

    “Konsentrasi Taecyeon..kau bisa!” gumamnya sendiri.

    “Hah itu dia..kita kesana..ayoo” tarik Taecyeon. Mereka berjalan menuju deretan meja bagian belakang. Disana ada Yuri yang masih makan sendirian. Sampai disitu Jessica terhenti, Taecyeon mencoba menariknya tapi dia tidak bergerak.

    “Jessica ayoo”

    Mendengar nama Jessica, Yuri akhirnya menyadari. Dia menatap Jessica yang berdiri didepan meja, yang juga sedang menatapnya.

    “Jessica..”Ucapnya.

    “Oppa aku mau pulang..” Balik Jessica tapi Taecyeon menghadangnya dia menarik Jessica lagi memaksanya. Jessica duduk didepan Yuri sedangkan Taecyeon duduk disampingnya menghambatnya keluar.

    “Oppa!” marah Jessica.

    “Ssst..tenanglah Jess..oh haii Yuri, kau tidak keberatankan kami makan disini..wah makananmu banyak sekali, kebetulan aku lapar.” Ucap Taecyeon tidak memperdulikan Jessica. Dia mengambil makanan itu menyediakannya di depan Jessica, Gyuri memang sengaja memesan beberapa porsi makanan untuk mereka.

    “Nah..Jessica Yuri selamat makan!” riang Taecyeon mulai makan makanannya.

    Jessica mencoba untuk keluar lagi, tapi mau bagaimana badan Taecyeon yang lumayan besar menghalanginya terpaksa dia duduk ditempatnya mencoba melihat kelain. Sementara Yuri menatapnya terus. Dia tau kalau ini pasti rencana Gyuri untuk membuatnya bertemu dengan Jessica lagi.

    Yuri tidak bisa bohong kalau dia sangat merindukan gadis yang duduk didepannya sekarang, meskipun Jessica tidak mau melihatnya tapi dia yakin Jessica juga merindukannya.

    Taecyeon melihat mereka yang saling diam, “Kalian boleh bicara jangan malu..anggap saja aku tidak ada..” senyumnya menggoda. Jessica mencubit keras pinggulnya. “aw” rintih Taecyeon.

    “Ok aku pergi..aku tau kalian tidak mau diganggu..” Ucapnya beranjak namun terhenti karena Jessica menahan bahunya. “Jangan pergi” ucap Jessica pelan.

    Taecyeon tersenyum menang, kembali duduk dan makan mencoba menyibukkan diri, “Lanjutkan” tawarnya.

    Yuri diam-diam merasa cemburu juga, melihat Jessica yang memegang lengan Taecyeon.

    “Jessica dengar aku minta maaf” ucapnya akhirnya.

    Jessica menoleh kearahnya tapi tidak berniat untuk menjawab.

    “Aku memang salah Jessica..aku tau kau pantas marah, aku juga marah dengan diriku tapi jujur aku masih mencintaimu sica..aku tidak ingin putus dengan mu..” Ucap Yuri serius. Sekarang dia sadar kalau memang Jessica yang dicintai, Gyuri dia hanya menyayangi Gyuri karena unnienya. Gyuri yang paling dekat dengannya tapi jika harus memilih dia memang tidak bisa memilih. Kerena Jessica cintanya dan Gyuri bukan.

    Jessica menatapnya tajam.

    “Jadi mau mu apa sekarang? Kau mau aku memaafkan mu? Dan menerimamu kembali menganggap tidak terjadi apa-apa..huh lucu sekali Yul.” sinis Jessica. Dia mencoba menahan air matanya.

    “Jessica..” Yuri mencoba meraih tangannya namun Jessica cepat menarik tangannya, “Aku mencintaimu Sica..aku tulus mengatakan ini. Hanya kau satu-satunya yang aku cinta sejak dulu hingga kau kembali..aku tidak ingin kehilangan mu lagi Sica..aku tidak akan melepasmu lagi..aku..”

    “Kau bilang kau mencintaiku? Apa kau yakin?” Potong Jessica. “Kau juga mengatakan ini kepada Gyuri kan?”

    “Tidak..”

    “Ini bukan mainan Yul..kalau kau belum yakin dengan hatimu jangan membuatku terlalu berharap” Tangis Jessica. Dia sudah berusaha menahannya tapi ini terlalu berat untuknya.

    “Sica..aku..”

    “Aku pergi..” Jessica menolak Taecyeon dengan kuat hingga dia terdorong lalu cepat pergi meninggalkan mereka. Dia tidak ingin menangis lagi dihadapan Yuri, terlihat lemah dihadapannya. Dia tidak ingin Yuri memilihya karena dia kasihan.

    “Sica..” Panggil Yuri. Taecyeon menahannya sebelum dia berlari keluar.

    “Dengar..aku percaya kau mencintai Jessica, yakini dia kau mencintainya jangan menyerah..jika tidak aku akan mengambilnya dan kau jangan coba-coba menyakitinya.” ingat Taecyeon. “sekarang pergilah”

    “Gomawo..” senyum Yuri lalu berlari mengejar Jessica.

    “Sica aku tidak akan menyerah..”

    Gyuri menemui Taecyeon dimeja makan.

    “Gomawo Taecyeon” Kata Gyuri.

    “hah kau dari mana saja?” Heran Taecyeon, dia menunggu Gyuri duduk didepannya.

    “Aku ada disini, tapi dilain tempat..” Senyum Gyuri, “Aku harap mereka berdua bisa menyelesaikan masalah mereka dengan baik, aku merasa bersalah karena kejadian kemarin.”

    “Sudahlah..kau tau kau tidak salah. Kadang pertengkaran memang perlu dalam sebuah hubungan. Kau lihat sendiri kan mereka itu saling suka hanya saja sulit mengatakannya..dengan ini juga kita jadi tau tentang mereka.” Hibur Taecyeon.

    “Sebenarnya aku sudah tau..”

    “Huh?”

    “Iya.. Jessica. Aku memang sudah tau kalau Yuri menyukai Jessica sejak dulu..aku cuma tidak menyangka kalau dia itu Jessica yang kita kenal.”

    “Aku hanya tidak ingin Yuri terpaku kepada nya..karena ku pikir Jessica tidak pernah kembali tapi ternyata aku salah..Jessica dan Yuri memang sudah ditakdirkan bersama” Kata Gyuri tertawa kecil mencoba menyembunyikan perasaannya.

    Taecyeon terpaku menatap Gyuri, “Aku tidak pernah melihatmu seperti ini..ternyata kau orang yang tegar dan penuh pesona” kagum Taecyeon.

    “Haha dasar gombal” Tawa Gyuri. Mereka tertawa bersama untuk beberapa saat sampai selesai.

    Gyuri berdiri untuk berpamitan, “Aku pergi dulu, sebentar lagi Han Seungyeon datang.. Seperti janji ku, date kalian.” Senyum nya lalu pergi meninggalkan Taecyeon yang tersenyum senang. Taecyeon memang sudah lama menaksir temannya Gyuri, Seungyeon tapi tidak punya keberanian untuk mengajak keluar maka dari itu Gyuri menawarkan bantuan asal dia membantu rencananya mempertemukan Jessica dan Yuri.

    Diluar cafe Gyuri menuju parkiran mobilnya, disana dia bertabrakan dengan seseorang yang berlari berlawanan.

    “auuuw!” Tariak Gyuri terjatuh bersamaan dengan orang itu.

    Orang itu cepat berdiri tanpa membantu Gyuri, dia melihat Gyuri sekilas “maaf” katanya kemudia berlari pergi dengan cepat.

    “Hais! Dasar gadis tidak sopan..awas saja kalau ketemu lagi!” marah Gyuri sambil merapikan dirinya.

    Yuri masih mengikuti Jessica, dia memaksa ikut masuk ke taksi dimana Jessica berada. Tentu saja Jessica menolaknya, tapi Yuri sudah terlanjur didalam.

    Mereka menuju apartement Jessica.

    “Untuk apa kau mengikutiku?” kesal Jessica.

    Yuri menghadapnya, “Jessica aku minta maaf..aku tidak akan lelah untuk meminta maaf, asal aku bisa bersamamu lagi” pinta Yuri.

    Jessica mengalihkan padangannya keluar jendela.

    “Jessica..”rengek Yuri.

    “Ok..aku memaafkan mu Yul. Sekarang sudah. Pergilah” acuhnya.

    “Jessica aku ingin kita seperti dulu lagi..”

    mereka sampai, dan Jessica cepat-cepat keluar setelah membayar. Yuri masih mengikutinya.

    “Jessica..kumohon dengarkan aku dulu..”

    “Apa? Apa yang ingin kau katakan lagi?” kesalnya dia berbalik menghadap Yuri yang terus mengikutinya.

    Kaget, Yuri tiba-tiba memeluknya.

    “Jessica aku tidak akan menyerah untukmu, sampai kita bisa bersama lagi..aku besungguh-sungguh mencintaimu..sekarang kau boleh mengabaikan ku, tapi aku tidak akan pernah menyerah..” Yuri melepaskan pelukannya dan menatap Jessica bersungguh-sungguh.

    “Aku pulang dulu..” senyum lebar lalu berbalik pergi.

    Diam-diam Jessica tersenyum, dia rindu..rindu pelukan Yuri. Dia melihat Yuri pergi menjauh.

    “Aku akan melihat..bagaimana usahamu” senyumnya lagi.


    Pagi harinya Jessica bangun dari tidur dan bersiap untuk kembali berkerja.

    “Aku tidak boleh bolos terus..Jessica semangat!”

    Setelah siap dia keluar dan melihat bunga didepan pintunya, juga bekal air minum. Bingung dia mengambilnya dan membaca pesan dikartu.

    “Pagi my Princess..kau suka bunga kan? Aku juga membuatkan mu jus..kau harus meminumnya karena itu dibuat dengan cinta hehe.. aku merindukanmu. I love U”

    “Yuri”

    Jessica tersenyum senang meminumnya dan mencium bungan pemberian Yuri.

    Siang Jessica dan Gyuri bertemu, di kantor. Jessica berusaha menghindari Gyuri tapi Gyuri terus mendekatinya.

    “Jessica, aku tau kau marah denganku..aku hanya ingin menjelaskan sesuatu. Tentang Yuri, aku dan dia tidak ada apa-apanya.. Aku akui aku memang menyukai Yuri tapi dia tidak Jessica. Dia menyukaimu hanya mencintaimu..jadi ku harap kau bisa memaafkan” Kata Gyuri setelah mereka berdua tinggal berdua diruangan.

    “Sebenarnya aku sudah memaafkannya..tapi aku masih tidak percaya padanya..” Jawab Jessica.

    Mereka berdua duduk berhadapan.

    “Kau tidak perlu ragu akan Yuri..aku berani bertaruh kalau dia hanya melihatmu bukan yang lain” mendengar itu Jessica merasa senang. Aku merindukanmu Yul.

    Gyuri berdiri disisinya, “Jadi masalah kita sudah selesai kan..kau memaafkanku?” Tanyanya.

    Jessica tersenyum mengangguk.

    Amber datang membawa bunga dan bingkisan ditangannya.

    “Jessica unnie..ada paket untukmu” berinya.

    Jessica mengambilnya, dan membuka bingkisan yang ternyata bekal makanan. Di situ terdapat kartu ucapan jadi dia membacanya.

    “My princess..Jangan sampai telat makan. Aku merindukanmu..I love U”

    “Yuri” Gumamnya.

    “Ciee” goda Amber, disertai tawa Gyuri.

    Diluar ruangan Taecyeon, sibuk berbicara manis ditelpon. Lalu tidak sengaja mendengar karyawan lain yang lewat sambil bercerita.

    “Kau tau besok anak direktur kita akan masuk kekantor, dia akan berkerja disini untuk persiapan jabatannya” Kata karyawan yang satunya.

    “Ah aku juga mendengar berita itu..katanya dia cantik” sahut temannya lagi.

    “Iya..”

    Mendengar itu Taecyeon tersenyum nakal.

    “Sayang..nanti aku telpon lagi yaa” putusnya. Dia bergabung dengan karyawan itu.

    “Hai minho, onew..” sapanya

    “hyung..”

    “Kalian tau siapa nama anak direktur kita itu?” Tanya Taecyeon penasaran.

    “Aku tidak tau hyung..”

    “Kalau tidak salah namanya Eunjung..ham Eunjung” jawab Onew cepat.

    .
    .
    .

    Bersambung

    stay with meeeeee :*
    gomawo^^

    Next last chap : Chocolate love

    Hello : I Told You I Wanna Die/2shoot/2-2

  • Hello : I told You I wanna Die
  • Yuri menemani Yoona seharian dirumah. Setelah kejadian kemarin dia merasa ini semua salahnya kalau dia membantu Yoona diwarung mungkin dia bisa menjaga mereka paling tidak dia juga merasakan sakit yang dirasa Yoona sekarang. Mukanya memar dan mulutnya luka belum lagi plester yang menempel disana.

    “Aku bersumpah akan mencari orang itu yoong..dia harus bertanggung jawab dengan perbuatannya” geram Yuri. Dia duduk memperhatikan Yoona yang mengganti plester dipipinya.

    “Orang itu..sebenarnya apa sih yang dicarinya, kenapa sampai melukai orang seperti ini ish..kau kenal dia?!” lanjut Yuri masih marah-marah.

    “Tidak perlu dipermasalahkan yul..” Jawab Yoona pelan.

    “Apanya?! Kau sampai luka seperti ini! Aku benar-benar menyesal kemarin tidak datang..maafkan aku..”

    “Hey sudahlah..” Yoona duduk disampingnya, “Jadi kemarin kau bersama Jessica?” tanya Yoona melihatnya.

    “uhmm” Malu Yuri, dia mengusap lehernya sambil tesenyum.

    “Kau menyukainya?” tanya Yoona lagi. Yuri menggeleng tapi kemudian mengangguk sambil tersenyum lebar.

    “Kalian pacaran?”

    “Yoooong..” rengek Yuri. Sahabatnya itu benar-benar merasa sangat malu, muka nya sudah merona sangat merah. Ini pertama kalinya dia menyukai orang, menyukai Jessica. Tanpa sadar tangannya memukul bahu Yoona.

    “Urghh”

    “aw sory” minta maaf Yuri.

    Jessica sedang berbaring menatap langit-langit kamarnya, senyum lebar terukir diwajahnya. Tiba-tiba dia mendengar suara dijendelanya dia cepat menuju terasnya.

    “Hey” lambai orang dibawah memberi tanda untuk turun. Dengan senang hati Jessica bergegas turun menemui pacarnya itu. Sudah lebih dari sebulan mereka bersama dan itu sudah cukup membuat Jessica sangat mencintainya.

    “Hey” sapa Jessica setelah mereka bertemu.

    Gadis didepannya itu tersenyum manis, didepannya.

    “hmm kau kembali lagi? Kenapa?” tanya Jessica. Hari ini mereka sudah mengabiskan waktu seharian dan itu membuat Jessica kaget saat melihat pacarnya kembali lagi setelah mengantar nya pulang malam itu.

    “Aku..” Dia menyodorkan boneka panda dengan bentuk hati.”ingin memberi mu ini” tunduknya malu. “Ku harap dia bisa menemani mu tidur..membuatmu nyaman”

    Jessica tersenyum senang menerimanya. “Kau kembali untuk memberi ini?” godanya. Entah kenapa semenjak dia mengenal gadis yang tertunduk malu didepannya sekarang membuatnya lebih senang menggodanya padahal sebelumnya dia sangat dingin terhadap semua orang. Pertemuan mereka yang tidak terduga dulu membawa perubahan yang besar.

    Dari gadis menyebalkan yang selalu tidak sengaja bertemu dengannya, sampai mereka menjadi terbiasa saling menemani, berteman dan tidak menyangka sebulan yang lalu gadis itu menyatakan rasa sukanya. Tentu saja Jessica menerima nya, hingga mereka bisa pacaran seperti sekarang. Cuma mereka yang tau, cukup mereka yang saling mengetahui merasakan saat cinta mereka.

    “Iya.. Kau tidak suka? Ah aku bisa membawa nya kembali”

    “Tidak. Aku sangat suka. Tidurku akan semakin nyaman karena boneka ini aku bisa merasakan kalau kau yang disampingku..”

    Gadis itu tersenyum senang mendengarnya. Jessica maju memberikan balasan terimakasihnya dengan mengecup bibir gadis itu. Memeluknya.

    “I love you Yoona”

    Yuri dan Yoona berjalan-jalan bersama menikmati pemandangan sore hari.

    “Rasanya sudah lama kita tidak jalan berdua seperti ini..” rangkul Yuri. “Aku merindukan mu Yoong hehe”

    Yoona hanya tersenyum mendengarnya. Mereka kembali berjalan, bercerita banyak hal, tertawa dan saling menggoda. Sampai mereka memutuskan berhenti untuk membeli es krim.

    “Aku mau es krim vanilaa” teriak Yoona.

    “Ish kenapa mesti teriak!” bentak Yuri, pedangang es krim itu hanya tertawa kecil melihat mereka yang bertingkah seperti anak-anak. “aku mau es crim coklaaat” teriak Yuri juga.

    Sibuk memilih es Krim, Jessica muncul disamping Yuri.

    “Aku juga mau es crim..” Ucap nya.

    Yuri menoleh tersenyum, “es krim vanila satu, coklat dua” pesannya.

    “Es krim vanila dua, coklat satu” ralat Yoona.
    “heh” bingung Yuri.

    “Aku tidak suka rasa vanila, Aku mau rasa coklat” datar Jessica. Yuri melanjutkan pesanannya membagikan es Krim. Sementara Yoona menatap Jessica, yang mengambil tangan Yuri membawa nya jalan bersama.
    “Kau sudah tidak suka rasa vanila sekarang” gumam Yoona.

    Mereka melanjutkan jalan bersama. Yoona berjalan disamping Yuri sementar temannya itu sibuk bermain dengan Jessica. Mereka bergandengan dan saling menyuap es krim.

    “Sicaaaa~” rengek Yuri. Jessica menempelkan es krimnya dan melumuri pipi Yuri.

    “Haha dasar anak kecil..sini..” tawar Jessica membersihkannya.

    “gomawoo~” Yuri mencium pipi Jessica cepat. Lalu mengalihkan padangannya pura-pura seakan bercerita dengan Yoona. Jessica cuma tersenyum melihat tingkah konyol Yuri. Dia menyukai ciuman itu.

    “Jangan cemburu~” goda Yuri ke Yoona lalu dia tertawa. Moodnya sedang baik.

    Yoona hanya tersenyum. Melanjutkan jalannya sampai handphone Yuri berbunyi.

    “eomma? Sekarang? oh iya aku segera kesana” Kata Yuri ditelpon.

    Dia menghadap ke Jessica.

    “Aku harus pulang sekarang..eomma sedang membutuhkan sesuatu..Nanti malam aku kerumah mu..ok?” lalu dia berbalik “Yoona, kau antar Jessica pulang dulu ya..aku harus pergi..byee” Dia berlari menjauh, “hati-hati yoong! Awas jangan ganggu dia” teriak Yuri lalu melanjutkan larinya. Yoona melihat kesamping kearah Jessica yang hanya menatap kedepan.

    “Bagaimana kabarmu?” Tanya Jessica memecahkan suasana.

    “aku baik.” jawab Yoona datar. Mereka berjalan pelan bersampingan.

    Jessica berhenti untuk menghadapnya, dia menyentuh pipi Yoona yang memar.

    “kau terluka..apanya yang baik” komentar Jessica. “Kau menyuruhku menjaga diriku, sementara kau yang membuat dirimu luka. Aku benci melihat mu lagi, aku benci melihatmu seperti sekarang..aku ingin memukulmu, membuatmu membayar tangisku tapi ku rasa itu sudah tidak perlu lagi” Jessica kembali berjalan didepan Yoona.

    “Maaf” ucap Yoona pelan tapi cukup jelas untuk didengar Jessica.

    “Tidak perlu..itu sudah tidak penting lagi” balasnya.

    “Ini yang terbaik buat kita..maaf membuatmu terluka..maaf..” lanjut Yoona.

    Jessica hanya berdiri didepannya tidak berani berbalik karena air matanya kembali mengalir.

    Flashback

    “Yoona..” Sapa Jessica senang melihat pacarnya yang menunggunya ditaman, mereka sudah 2 hari tidak bertemu tapi itu bagai setahun untuk Jessica. Dia sangat merindukan pacar manisnya itu.

    “haii..bagaimana kabarmu?” ucap Yoona setelah Jessica melepaskan peluknya.

    “Buruk. aku merindukanmu~” cemburut Jessica.

    Yoona mengacak rambutnya, dan memeluknya lagi. “Aku juga merindukanmu sica” balasnya pelan. Yoona mengadeng tangan Jessica membawanya berjalan-jalan mengabiskan waktu bersama. Sampai malam dia mengantar Jessica didepan pintu rumahnya.

    “Aku tidak mau pulang..” cemburut Jessica. “aku masih ingin jalan bersamamu”

    Yoona tersenyum, memainkan jari tangan pacarnya.

    “Aku juga..” ucapnya pelan raut wajahnya tiba-tiba berubah datar, Yoona menatap serius Jessica membuat pacarnya itu bingung.

    “Yoona..ada apa?” Bingung Jessica. Yoona masih memegang tangannya.

    “Jessica, sebaiknya kita tidak usah bertemu lagi..” ucapnya Serius.

    “Huh?”

    “Aku ingin mengakhiri hubungan ini, kita putus..aku sudah tidak mencintaimu lagi” sambung Yoona.

    Jessica melepaskan tangannya dari genggaman Yoona, menatapnya tidak percaya. “apa? Kau bercandakan..ini tidak benarkan Yoona.ahaha ini tidak lucu Yoongie..” hibur Jessica tapi air matanya mulai mengalir.

    “aku serius..ini demi kebaikan kita..aku..kau pantas mendapatkan yang lebih baik dari aku..maaf jangan menangis” ucap Yoona masi dengan nada Serius. Dia memberanikan diri menatap mata Jessica yang berair. Ingin rasanya dia memeluk Jessica tapi dia mengurungkannya.

    Jessica menampar Yoona.

    “Aku pikir kau berbeda..kau beda dari yang lain kau membuatku mencintaimu..sekarang kau mengatakan hal ini..aku kecewa..” Jessica terhenti karena tangisnya..

    “maaf..”

    “aku membencimu Yoona! Aku membencimu!” marah Jessica. Dia masuk dan membanting pintu rumahnya dengan keras. Menangis merasakan sakitnya patah hati dikamarnya, mengurung diri.

    “..lebih baik aku mati..Yoona..” isaknya.

    Yoona berjalan gontai menuju rumahnya, hatinya benar-benar terluka. Jujur dia masih mencintai Jessica, tapi dia harus memilih.

    “Kau sudah memutuskannya?” suara seorang bapak-bapak membuyarkan pikirannya. Orang itu berdiri didepannya dengan anak buah yang menjaganya disamping.

    Yoona mengangguk, “Aku sudah mengikuti mau mu paman..kuharap kau jangan melukai siapa pun..”

    Ayah Jessica tersenyum sinis, menepuk bahu Yoona. “Bagus..kau anak yang pintar memilih..Orang tua mu tidak akan masuk dalam masalah ini lagi, juga dengan perusahaan kalian..tetap jauhi Jessica. Kalau tidak bukan hanya kau, Jessica juga akan mendapatkan masalahnya..aku tidak suka melihat mu berdekatan dengan Jessica terlebih lagi kau hanya anak orang tua dengan perusahaan kecil dan pekerja diwarung..kau paham?”

    Yoona menatapnya, “Jangan sakiti Jessica” ucapnya serius.

    “Itu tidak akan terjadi asal kau tetap menjaga jarakmu..baiklah kurasa masalah ini sudah beres..selamat tinggal” Ayah Jessica tersenyum sinis lagi meninggalkan Yoona yang berdiam mengepalkan tangannya menahan kesalnya.

    Dia menggetuk kamar Jessica, dan menemui anaknya yang berbaring menangis diranjang.

    “kau tau..aku tidak heran melihatmu menangis seperti sekarang, aku memang sudah menduga anak itu akan menyakitimu..dia hanya bermain dengan mu..jauhi dia, jangan bertemu dengannya lagi..” ucapnya.

    Jessica membenamkan mukanya dibantal, menangis.

    “Aku tau kau ada hubungannya dengan ini..aku hanya tidak menyukai kenapa Yoona tidak memilihku dan melawanmu..” gumam Jessica didalam hati.

    Yuri melaju dengan motornya, ingin kembali menuju kerumah Jessica. Dia tidak bisa menyembunyikan senyumnya, rasanya menyenangkan akan segera bertemu.

    “Yuhuuu” teriaknya senang.

    Di jalan dia melewati warung paman Yoona, dia melihat orang-orang berjas hitam keluar dengan muka marah dari dalam warung. Dengan cepat Yuri, memakirkan motornya disana. Dia masuk dan kaget melihat warung paman Yoona berantakan padahal kemarin warung itu sudah mereka perbaiki.

    “Paman? Ada apa? Paman baik-baik saja?” Yuri menghampiri paman Yoona yang membenarkan kursi yang berhamburan.

    “Yuri..orang itu kembali lagi, mereka mencari Yoona..kau tau Yoona kemana, jangan sampai dia bertemu dengan mereka diluar” khawatir paman.

    Yuri mengepal kan tangannya, “urgh mereka rupanya! Aku akan memberi pelajaran kemereka..” marah Yuri. Paman mencoba menahannya tapi Yuri bersih keras ingin melawan orang tua. Dia memang cukup pandai berkelahi dibandingkan Yoona.

    Yuri mencari keluar, dia menemukan orang-orang itu mengawali bapak-bapak yang memarahi anak buahnya yang lain lalu masuk kedalam mobil dan pergi.

    “Dia pasti dalangnya..” gumam Yuri. Dia lalu cepat mengikuti kemana pergi nya mobil itu.

    Mobil itu berhenti memasuki sebuah rumah dan menuju gedung disamping rumah. Yuri memperhatikan mereka.

    “Ada 7 orang dan untuk menjaga 1 bos huh menyebalkan dia pasti sok berkuasa..awas saja aku pasti akan membalasmu karena memukul Yoona kemarin” marahnya.

    Yuri ikut masuk kerumah dan dihambat 2 orang anak buah ayah Jessica.

    “Siapa kau? Mau apa kau disini?” Tanya orang itu.

    Yuri mengambil kayu pukulan yang dilihatnya, dan menggenggamnya kuat.

    “aku? Aku ingin memberi pelajaran kepada bos mu itu” jawab yuri menantang. Dia maju dan mulai memukuli orang berdua didepannya.

    “Kau tidak pulang kerumah?” Yoona memperhatikan Jessica yang melangkah kedepan pintu rumahnya.

    “Ini rumahku sekarang” jawab Jessica datar.

    “Tidak..kau harus pulang kerumahmu Sica ayahmu mencari mu..kemarin dia menemuiku..” Jelas Yoona.

    “Berhenti memanggilku Sica.. Aku tidak ingin mendengarmu memanggil namaku seperti itu..oh jadi dia menemuimu, dia yang membuatmu terluka..kau takut?” sinis Jessica. Dia masih kecewa karena Yoona tidak mempertahankan hubungan mereka dulu, dia pikir alasannya cuma karena Yoona terlalu pengecut mengambil resiko. Padahal ini semua memang demi kebaikan mereka.

    “Ok Jessica..sudah cukup. Aku antar kau pulang sekarang..” Yoona menarik tangan Jessica tapi Jessica cepat melepasnya. Dia menampar Yoona.

    “urrhgh” rintih Yoona karena memar diwajahnya masih sakit.

    “Kau yang cukup..berhenti mengurusiku. Aku tidak ingin pulang..aku ingin hidup dengan jalanku sendiri, kau tidak ada hak ikut campur..kau bukan siapa-siapa ku lagi!” marah Jessica, dia mulai menangis. Yoona ingin menjawabnya tapi handphonenya berbunyi. Pamannya menelpon.

    “Paman?..apa?? Yuri?? Dia mengikuti mereka..oh sial..baiklah..aku mengerti..paman jangan khawatir..” Yoona mematikan Handphone dia kembali melihat Jessica.

    “Yuri kenapa?” tanya Jessica.

    “Dia dalam masalah..ayahmu..” ucap Yoona pelan..”aku harus pergi” lanjutnya.

    Jessica menahan tangannya, “aku ikut”

    “Tidak..kau tunggu disini..” tolak Yoona melepas tangannya.

    “Jaga Yuri..ku mohon..” tangis Jessica. Yoona mengapus air matanya, lalu mengangguk.

    “Aku pergi dulu..” pamitnya lalu berlari meninggalkan Jessica.

    Yuri masih berkelahi dengan 2 orang itu, dia menghajar mereka, memukulnya dengan kuat. Ini bukan apa-apa baginya tapi orang itu bertambah banyak menjadi 5. Mereka terus memukul Yuri, melawannya.

    “Dasar anak bodoh, kau pikir kau bisa apa..hah..” Teriak salah satu orang itu. Dia menendang Yuri hingga terjatuh.

    Yuri masih berkelahi memukul orang itu hingga berkurang tapi tenaga nya juga sudah habis hingga dia terbaring ditanah.

    “arhh” rintihnya. Mulutnya banyak mengeluarkan darah. Yuri sudah pasrah menerima pukulan.

    “Hentikan!” Teriak Yoona yang baru datang, dia melempar orang itu dengan kayu yang dipegangnya lalu membantu Yuri.

    “Yoona..” panggil Yuri berdiri.

    “Kau untuk apa sampai begini..bodoh..”marah Yoona. Yuri menolaknya.

    “Orang itu sudah memukulmu, dan menghancurkan warung paman..aku tidak terima..” balas Yuri.

    “Sudah ayo pergi..” Yoona masih berusaha memapah Yuri tapi Yuri tidak mau. 2 Anak buah orang itu yang tersisa datang lagi dan menghajar mereka. Yoona melawannya sedangkan Yuri bersandar ditembok.

    “Akan aku hadapi mereka..kau pergilah..”usul Yoona ke Yuri. Yuri berdiri dan maju ikut memukul yang satunya hingga rebah. Lalu dia berbalik melihat Yoona yang bertarung melawan yang satunya lagi.

    “Aku tidak akan membiarkan orang itu..setidaknya ini untuk menebus karena aku tidak bersamamu saat itu..aku teman yang buruk..” Kata Yuri sebelum dia berlari masuk kedalam mencari bosnya.

    “Yuri.. Jangan!” teriak Yoona tapi dia masih dihadang dengan lawannya.

    Jessica tidak bisa tenang menunggu dirumah, dia terus saja mondar-mandir menggenggam, handphonenya berharap Yuri menghubungi tapi tidak ada.

    “Aku tidak boleh membiarkan ini..aku harus pergi..” Dia cepat berlari.

    Yuri menemui seorang bapak berjas didepannya, orang itu melihatnya tegas.

    “Kau? Apa yang kau inginkan?” Tanyanya.

    Yuri tersenyum sinis, “Aku yang harus bertanya padamu..apa yang kau mau hah? Kenapa kau memukuli temanku..kenapa kau merusak warung paman Yoona hah?” Teriak Yuri.

    “Jadi kau teman anak kurang ajar itu!” balas Ayah Jessica.

    “iya..aku temannya..” Yuri maju menghajar ayah Jessica dengan kayu hingga terebah. Dia terus memukulnya. “Bapak tua bisanya hanya bersembunyi dengan anak buah..”komentar Yuri.

    “urgghh aku tidak salah..aku hanya ingin mencari anakku yang..disembunyikannya..anakku Je” Ucapannya terpotong karena Yuri terus memukulinya.

    “Kau jangan mencari alasan..Yoona bukan orang seperti itu..”

    Ayah Jessica berusaha bangun dan memberitahu Yuri dia mencoba mengeluarkan foto dari sakunya..Yuri yang tidak sengaja melihatnya langsung terhenti.

    “Jessica” kagetnya.. “Yoona” Foto itu memperlihatkan Yoona yang sedang bepelukan dengan Jessica.

    “ddidia anakku..Jessica..”

    Yoona masih berkelahi, dia memang tidak sepandai Yuri yang belajar ilmu bela diri tapi dia berusaha semampunya untuk melawan.

    “Rasakan ini!” pukul orang itu. Dia mengeluarkan sebuah pisau dari balik jasnya dan mencoba menusuk Yoona tapi sayang Jessica segera datang.

    “Yoona !” Teriak Jessica. Orang itu kaget dan menyangka Jessica bersama dengan polisi jadi dia kabur untuk menemui bosnya.

    Jessica membantu Yoona yang terjatuh, “Kau tidak apa?” Tanyanya sambil melihat darah di muka Yoona.

    “Yuri..aku harus mencarinya” ucap Yoona lalu meninggalkan Jessica. Dia masuk dan melihat Yuri yang berdiri terdiam memegang sesuatu sementara ayah Jessica terduduk dibawah. Dia maju menghampiri Yuri tapi anak buah yang satunya yang melawannya tadi juga ada disana dia mengira Yuri akan berkelahi lagi jadi dia mengarahkan pisaunya ke Yuri dengan cepat Yoona menghalang dan sialnya pisau itu malah menusuk dalam perutnya.

    “Yoona!” kaget Yuri. Yoona terjatuh kebawah dipangkuan Yuri. Yoona menahan sakit diperutnya dan melihat kearah Yuri.

    “Yuri..syukurlah kkaau baik-baaik saajja” ucapnya pelan.

    Yuri hanya bisa menangis melihat sahabatnya itu, “Yoona..”

    Yoona melihat foto yang dibawah disampingnya.

    “Jesicaa..”Jelasnya “akuu dan diaa tidak ada apa apa..dia mencintaimuuu..” senyum Yoona.

    Jessica datang dan terduduk, menangis melihat Yoona. Dia mengambil tangan Yoona.

    “Yoona bertahanlah..aku sudah menelpon ambulans..mereka segera datang..” Ucapnya menangis.

    Yoona masih tersenyum, “Jangan menangis..Yurii..jaga diaa aku percayaa dengaan mu.” ucap Yoona sebelum dia menutup matanya. Setidaknya aku sudah menebus kesalahanku dulu berjuang untukmu Sica..agar kau bahagia bersama.....Yuri..

    “Yoona..” tangis mereka.

    Jessica berdiri melihat pemandangan malam dari atas gedung. Dia menghembuskan nafasnya dalam..memejamkan matanya..tanpa sadar air matanya mengalir.

    “Yoona..”gumamnya.

    “Kau bisa masuk angin” Sebuah jaket menyelimuti badan Jessica, Yuri berdiri disampingnya. Ikut berdiri melihat pemandangan dari atas gedung itu.

    Jessica melihatnya sekilas lalu kembali melihat kelain.

    “Yoona pasti bahagia di atas sana..” ucap Yuri, “aku bangga pernah mengenalnya..menjadi sahabatnya..” sambungnya. “hmm sudah setahun, tapi rasanya baru kemarin dia meninggalkan kita”

    Ya, semuanya sudah berlalu selama setahun. Yoona sudah tenang di alamnya dengan senyuman karena semuanya yang ditingalkan baik-baik saja. Ayah Jessica menerima hukuman karena perbuatannya bukan hanya karena kasus Yoona juga karena perbuatan curang diperusahaan. Jessica hidup sendiri meneruskan perusahaan nya memperbaiki semuanya, ayahnya mulai sadar dan mempercayai keputusan Jessica. Paman Yoona warung nya sudah kembali ramai, kadang-kadang Yuri membantunya. Sedangkan Yuri juga sudah menjadi ketua perusahaan digedung ayah Yoona. Dia sudah di anggap anak sendiri oleh orang tua Yoona.

    Jessica memeluk Yuri, menyandarkan kepalanya didada Yuri. Tangan Yuri melingkar di pinggangnya menstabilkan diri mereka.

    “Aku mencintaimu Jessica Jung..” ucap Yuri mengecup lembut dahi Jessica.

    Jessica menatapnya tersenyum..

    Ketika aku bertemu denganmu nanti..aku akan mengatakan sesuatu. Aku akhirnya menemukan seseorang yang baru..kami akhirnya bersama..terimakasih..

    “Aku juga mencintaimu Kwon Yuri”

    .
    .
    .

    Selesai.

    Stay with me.. I love youuuuu :*
    gomawo^^

    HELLO/2shoot/1-2

      Hello

    “yaaaah!”

    “ahahaha ayo kejar aku..”

    “urgh awas kau yul..”

    Yoona berlari mengejar Yuri yang mengejeknya didepan. Mereka berlari sepanjang jalan seraya tertawa bersama. Teman ah tidak sahabat begitu lah mereka, selalu bersama bertingkah konyol bahkan lebih dari anak kecil.

    Akhirnya Yoona berhasil menangkap Yuri, gadis berambut panjang itu merangkul sahabatnya sambil memukul kepalanya terus menerus.

    “Yoong..sudah argh sakit tau” ucap Yuri mencoba melepaskan diri dari Yoona. Tapi temannya itu terlalu kuat.

    “Siapa suru memukul ku duluan..tiap hari memukul kepalaku, rasakan ini ahaha” balas Yoona terus memukulnya.

    “Itu karna kau terus murung beberapa hari ini, harusnya kau berterimakasih aku mengembalikan mood mu” Yoona melepaskan rankulannya dia berjalan kembali biasa disamping yuri.
    “Yaa tuhan terimakasih kau menyadarkannya..” Yuri mengusap kepalanya, lalu menyadari raut muka Yoona yang tiba-tiba murung.

    “hey..kau tidak apa?” Ucap nya mendiamkan tangannya di bahu Yoona, “kau bisa cerita kalau ada masalah..ingat kita kan sahabat, S-A-H-A-B-A-T..atau kau lapar yaaa” godanya.

    Yoona kembali tertawa mendengar ocehan temannya itu.

    “Urggh-” ucap Yuri mehanan pukulan Yoona di perutnya lalu berlari.

    “Yah! codiiiiing !

    “ayoo Yul..cepat..aku lapar, kau traktir makan yaaa” teriak Yoona dari depan berlari masuk kewarung makan.

    “ish anak itu” senyum Yuri menyusulnya.

    Seorang gadis berdiri diatas gedung, memejamkan matanya..melihat kebawah..lalu kembali memejamkan matanya.

    Air matanya perlahan mengalir, memenuhi pipinya. Dia melangkah perlahan kedepan merasakan angin yang menerpa wajahnya.

    “Mianhe” ucapnya diselah tangis.

    “lalalalalalala kissing you babyyy~” nyanyi Yuri di sepanjang koridor. Dia sedang memegang pembersih lantai berserta amber berisi air setelah dia berkeja.

    Asyik dia bernyanyi, tiba-tiba dia terjatuh terpeleset dilantai yang habis di bersihkannya.

    “urhh..” rintihnya lalu bangun melihat orang-orang kantor tertawa melihatnya.

    “hehehe permisih” malunya. Yuri bergegas ketoilet menganti baju yang basah dan kotor. Lalu berjalan naik keatas untuk menjemur bajunya.

    “hwwuaaa!” Teriak Yuri. Dia berlari menarik lalu memeluk gadis didepan nya.

    Mereka terjatuh kebawah. Yuri perlahan membuka matanya, gugup memikirkan apa dia berhasil menyelamat kan gadis yang dipeluknya sekarang.

    “Kyaaaa Unnie~ kenapa unnie mau melompat!” khawatirnya. Didepannya gadis itu malah diam menatapnya, seperti tidak terjadi apa-apa dia mencoba bangun dari tempatnya berbaring tanpa mengucap kan kata.

    Yuri yang sudah berdiri, kesal.

    “Yah-kenapa kau diam. Kau mau kemana?”

    “Kenapa kau menarikku..pabo..” datar gadis itu. Dia terus berjalan perlahan.

    “aish lain kali kalau ingin bunuh diri jangan didepan ku! Tunggu aku pergi baru kau melompat lagi!” marah Yuri. Dia berjalan cepat mendahului gadis itu.

    “Aku pergi sekarang..kau boleh melompat kembali!” omel Yuri. sampai didepan pintu dia kembali berbalik karena mendengar suara.

    “Unnie!” kagetnya melihat gadis tadi jatuh pingsan dilantai.

    Yuri sibuk mengipas-ngipas gadis yang berbaring di pahanya. Mereka masih di atas atap, karena bingung Yuri hanya mengangkat gadis itu ditempat yang teduh lalu membaringkannya dipahanya berharap gadis itu segera sadar.

    “unnie bangun lah..kumohon..” gugup Yuri. Dia terus mengipas-ngipas dengan tangannya.

    Gadis berambut coklat yang berbaring dipahanya berlahan bergerak. Yuri langsung senang.

    “Unnie kau bangun..yay!”

    “kau berisik sekali..” ucap gadis itu. Dia melihat wajah Yuri yang tersenyum lebar melihatnya.

    “Terimakasi unnie..kau bangun..gomawoo” lega Yuri.

    Dia duduk, menstabilkan kesadarannya agar tidak rebah kembali.

    “kepala ku pusing sekali..”

    “Unnie kau belum makan yaa? Kau pucat.” Yuri memperhatikan wajahnya. Dia tidak menggubrisny.

    “Aku pergi..” kata nya mencoba berdiri.

    Yuri yang melihatnya berjalan pelan tidak mau kalau dia nanti pingsan lagi, biar bagaimanapun dia juga masih punya rasa kasihan.

    “Aku tidak bisa membiarkan kau pergi!” cegah Yuri. Gadis itu cuma melihatnya aneh.

    “uh minggir” tolak nya. Yuri menggambil tangannya dan menggandengnya turun.

    “Aku traktir makan dulu..baru aku bisa membiarkan mu pergi..” dia berbalik melihat gadis itu.”jangan protes!” ucapnya lalu tersenyum. Gadis itu hanya bisa mengikuti kemana Yuri membawanya.

    Yoona sibuk mengurusi tamu di tempat warung makan pamannya. Pamannya sudah lumayan tua jadi dia suka rela membantu disana.

    “Paman sini biar aku yang antar mie itu” Riang Yoona menggambil pesanan di tangan pamannya. Dia sudah berkerja sampai sore tapi tetap saja bersemangat.

    “Kau istirahat saja dulu..makan disana..” tolak pamannya.

    “Habis ini aku istrahat paman.. Ahh aku tidak sabar ingin makan yang banyak ahaha” canda Yoona.

    “Kau ini.. Ya sudah cepat antar disana lalu istirahat”

    “Siap” hormat Yoona. Dia segera mengantar pesanana ke meja tamu. “selamat menikmati”

    “huuh kerja seperti ini membuatku jadi tidak memikirkan apapun” senyumnya. Dia segera kembali kebelakang namun terhenti mendengar teriakan sahabatnya.

    “Yoooong..sajikan makanan yang paling enak kesini yaa” Teriak Yuri yang baru datang lalu menuju tempat yang kosong.

    Yoona langsung menuju ketempatnya.

    “Yah! Yuri..biasanya juga kau langsung mengambil sendiri. Apa kau punya uang hah?” marah Yoona. Dia hanya bercanda.

    “Sssht yoong..kau jangan mempermalukan aku. Ini untuk temanku..” Ucap Yuri cepat sambil senyum-senyum menutup malunya didepan teman barunya itu.

    Yoona yang berdiri dihadapan Yuri tidak melihat dia bersama siapa, jadi dia maju mendekat ditengah mereka. Yoona terhenti seketika, dia menatap gadis didepannya itu yang juga menatapnya. Sunyi, seakan hanya mereka yang berada disana.

    “Heh” heran Yuri.

    Yoona langsung berbalik kesamping kearah Yuri. Tapi dia tidak bisa menahan untuk bertanya kepada gadis itu yang masih menatapnya tidak berkedip.

    “k-kka-kau ppucatt” gagap Yoona.

    Gadis itu masih menatapnya tidak berniat mengalihkan padangan atau pun menjawab pertanyaannya.

    “Yoong dia lapar..makany aku pesan makanan” sahut Yuri.

    “Oh-h aku ssia-ap kan mmaakkanan segerra” ucap Yoona lagi cepat kembali kedalam.

    “Aneh” komentar Yuri. Dia kembali menghadap gadis didepannya. Lalu menyadari gadis itu menetes kan air mata.

    “Kau menangis?” tanya Yuri.

    Dia cepat menghapus air matanya lalu melihat kelain. Setelah bersih dia balas melihat Yuri.

    “Nama ku Jessica”

    “oh Jessica..aku Yuri” senyum Yuri. Dia senang akhir gadis didepannya ini mau juga mengenalkan diri. Hmm Jessica.

    “Ini makanannya..silahkan dinikmati”

    “ah Paman..Yoona dimana?” Tanya Yuri. Dia melihat kebelakang namun tidak menemukan Yoona.

    “Dia sedang istirahat..paman memaksanya makan juga didalam kelihatannya di sangat lelah..ini temanmu?”

    Yuri mengenalkan Jessica kepada paman.

    “Nama nya Jessica paman..” senyum Yuri melihat Jessica yang juga tersenyum kecil.

    “Jessica..sepertinya paman pernah mendengar nama itu..” pikirnya.

    “Ahh paman..pasti paman mau menggodanya kan ahaha” canda Yuri. Jessica hanya diam memikirkan sesuatu.

    “ahaha kau ini ada-ada saja..yasudah paman kedalam dulu..makan yang lahap ya ini Yoona yang khusus membuat” pamit paman.

    “Ne”

    Yuri melihat Jessica yang makan makanan nya, dia terlihat lahap tapi ada sesuatu yang aneh.

    “Makanannya tidak enak?” Tanya Yuri.

    “tidak ada mentimun” ucap Jessica, masi terus makan makanannya.

    “oh Yoona pasti lupa memasukkannya.. Mau aku ambilkan?”

    “tidak..tidak perlu” tolak Jessica, dia terus memakan makanannya. Yuri tersenyum lagi melihatnya makan.

    “Makan yang banyak” ucapnya senang.

    “Aku pulang dulu..yoong makanannya nanti aku bayar ya hehe” bisik Yuri ke Yoona yang berdiri diam disampingnya.

    Jessica menarik tangan Yuri.
    “Temani aku jalan..” pinta nya.

    “aku??” kaget Yuri.

    “Iya.. Temani aku. Aku ingin jalan bersamamu sekarang..”

    “ah iya..”

    “kau ttidak ppulang?” Tanya Yoona ke Jessica tapi dia malah melihat Yuri.

    “Aku mau jalan-jalan dulu yoong..”jawab Yuri. “nanti aku kabari kalau sudah pulang ok?”

    “ayoo..” tarik Jessica. Dia melihat Yoona tapi Yoona melihat kelain.

    “Aku pergi dulu..” ucap Yuri meninggalkan Yoona.

    “jaga dia” ucap Yoona pelan.

    Yuri dan Jessica duduk di kursi taman. Berdiam disana melihat bintang dan cahaya bulan. Sebenarnya hanya Jessica yang berdiam sedangkan Yuri sibuk melihat kiri-kanan ke arah orang yang berjalan dan tidak tau kenapa mereka berdiam disitu.

    “Kau tidak kedinginan?” tanya Yuri. Dia mengenakan Jaket sedangkan Jessica tidak, jadi dia khawatir. Melihat Jessica yang hanya diam melihat bintang. Jadi melepas kan Jaketnya menyelimuti Jessica.

    “Pakai ini biar tidak masuk angin..” senyumnya. Jessica menatapnya lalu tersenyum juga.

    “Kenapa kau baik denganku?” Tanya Jessica.

    “aku? Baik? Ahaha” tawa Yuri. Dia hanya bersikap wajar.

    “Kau aneh.” Senyum Jessica melihatnya tertawa.

    “Kau cantik jika tersenyum seperti itu..” komentar Yuri.

    “benarkah?” tanya Jessica balik. Dia benar-benar menyukai keberadaan Yuri. Bisa membuatnya sedikit bergembira melihat keaneh Yuri.

    “Iya” angguk Yuri terus menerus.

    Jessica menahan kepala Yuri.
    “Hentikan.. nanti kau pusing.”

    “aa..iya” Yuri tertunduk menutup merah pipinya.

    “kau manis jika malu seperti itu..” Jessica tertawa kecil mengoda Yuri. Dia menikmati malam itu.

    Yuri semakin menunduk.

    “Mulai sekarang kita berteman” ucap Jessica. Dia berdiri mengeratkan jaket Yuri dibadannya.

    “kita berteman?” ikut Yuri berdiri.

    “iya” senyum Jessica, “ayoo pergi..”

    Sudah hampir seminggu Jessica dan Yuri berteman tiap hari mereka selalu bersama. Setelah dia selesai berkerja Jessica selalu menunggunya didepan pintu keluar. Mereka bermain bersama, berjalan kemana saja, makan bersama dan bercerita.

    Jessica selalu terlihat riang bersama Yuri, dia tertawa lepas senang selalu.

    “Sica..buka mulut mu?” Yuri meyuapkan makanannya.

    “Gomawo” senyum Jessica.

    “Sekarang giliranmu” bukannya kemulut Yuri malah mengenai hidungnya. Jessica tertawa kembali.

    “Aish” cemberut Yuri.

    “Sshh sini biar aku bersihkan” Dia membersihkan kotoran makanan di hidung Yuri dengan tangannya.

    “gomawo sica” senang Yuri.

    Mereka melanjutkan makannya dia atas gedung.

    “Pulang nanti aku tidak bisa menemani mu.. Yoona menyuruhku membantunya diwarung. Kau tidak apa?” tanya Yuri.

    Jessica berhenti makan. Dia melihat kelain.

    “Sicaaa~kau tidak suka? aku hanya membantunya diwarung sehabis itu aku langsung menemanimu dirumah..jangan cemburu” goda Yuri.

    Jessica menatapnya.

    “Aku tidak ingin kau pergi.” ucapnya datar.

    “Tapi sica~”

    Jessica berdiri melihat kelain kearah pemandangan dari atas gedung tempat yang dipilihnya untuk tidak hidup lagi dulu.

    “Aku tidak mau kau pergi..aku ingin bersamamu..”

    “Kau bisa ikut kewarung..kita bisa bermain bersama Yoona..”

    “Tidak”

    “Tapi aku sudah lama tidak bermain bersama Yoona..hmm” Yuri menghitung jari tangannya, “Sudah hampir seminggu” ucapnya lagi.

    “Baiklah kalau kau memang mau pergi.. Aku pulang dulu..” marah Jessica, Yuri cepat berdiri meraih tangannya.

    “Ok ok..aku tidak pergi..sekarang senyum ya..” Jessica berbalik cepat.

    “Benarkah? Janji?”

    “Iya..” senyum Yuri. Jessica lalu mencium pipinya meninggalkan Yuri yang berdiri terdiam. Dia pergi kepintu turun.

    “Nanti aku tunggu dirumah..jangan sampai telat ya” teriak Jesicca.

    Yuri masih berdiri ditempatnya memegang pipi bekas ciuman Jessica. Dia tersenyum senang melompat-lompat kecil.

    Yoona masih sibuk diwarung, hari ini pengunjung banyak yang datang. Dia melihat jam didinding, sudah sore sedangkan Yuri belum juga datang.

    “Kemana Yuri..sudah lama aku tidak melihatnya” ucap paman mengagetkannya.

    “Aku juga tidak tau paman..mungkin dia sedang sibuk”

    “Dia pasti sedang sibuk bersama teman barunya itu..hmm Jessica, paman rasa Yuri menyukainya” ucap paman Yoona sambil membantu merapikan meja.

    “iya..Jessica pasti senang bersama yu..”ucap Yoona pelan. Perkataannya terhenti mendengar orang yang datang kewarung. Membentak kasar pengunjung yang lain, menyuruhnya keluar.

    “ada apa ini?” panik paman Yoona.

    “Dimana Yoona?” tanya orang itu.

    “Yoona? kalian siapa..” tanya paman Yoona masih bingung. Orang berjas hitam itu terus membanting kursi dan peralatan yang ada disana.

    Yoona keluar menghampiri pamannya.

    “paman ada apa?” tanya nya.. “hey hentikan!” marah Yoona mencoba mencegah orang-orang itu.

    Lalu seorang bapak yang juga berjas rapi dikawali dengan orang-orangnya ikut masuk. Dia berdiri tepat dihadapan Yoona.

    “Paman..” sapa Yoona pelan.

    Paman itu menampar keras wajah Yoona, beberapa kali. Hingga darah segar keluar dari mulutnya.

    “kau apa yang kau lakukan!” marah paman Yoona, tapi Yoona menahannya..
    “Aku tidak apa paman..” ucapnya menahan perih.

    Orang itu menatapnya marah.

    “Dimana anakku?” tanyanya keras.

    “Aku tidak bersamanya paman..” ucap Yoona masih pelan.

    Orang itu menampar Yoona lagi sampai dia terjatuh. Melihat itu paman Yoona ingin memukulnya tapi anak buah orang itu menolaknya sampai ikut terjatuh.

    Yoona marah dia berdiri ingin melawan, tapi dia terlalu lemah. Melihat Yoona Pamannya mencoba menghubungi Yuri tapi handphone Yuri tidak ada jawaban.

    Yuri sedang diperjalanan bersama Jessica mereka sedang dimotor. Setelah sampai di sebuah pantai mereka berjalan bersama bermain air. Karena Jessica terus menyiram air Yuri meletakkan Jaket dan handphonenya dimotor jadi dia bisa membalas Jessica. Dia tidak menyadari Handphonenya yang berbunyi terus.

    “Yul sudahh..” teriak Jessica basah.

    Yuri tertawa mengangkat Jessica dipeluknya, lalu membawa nya berlari kepinggir. Mereka terjatuh dipasir tertawa bersama.

    Cuaca sudah mulai gelap, mereka duduk menyaksikan matahari yang terbenam.
    Jessica merebahkan kepalanya dibahu Yuri.

    “Yul..” panggilnya.

    “Iya” jawab Yuri masih terus melihat kearah pantai.

    “kenapa kau tidak pernah bertanya kenapa aku ingin bunuh diri dulu?” tanya Jessica.

    Yuri melihatnya, tersenyum.
    “Aku tau pasti ada alasan yang kuat untukmu..tapi aku senang karena aku yang mencegahmu jadi kita bisa seperti ini”

    Jessica tersenyum menatapnya, tanpa sadar dia memajukan dirinya hingga bibir mereka menyatu.

    “gomawo” senyumnya manis ke Yuri yang terdiam.

    Dia menggenggam erat tangan Yuri. Yuri balas menggenggam tangannya. Mencium lembut dahi Jessica. Mereka tetap seperti itu melihat matahari yang terbenam.

    Sementara itu..

    Yoona sedang terbaring dilantai, pamannya membantunya untuk duduk.

    “Kalian hentikan..apapun yang kalian cari, saya yakin Yoona tidak mengetahuinya.” ucap Paman Yoona.

    Orang itu, menunjuk ke arah Yoona.

    “Jika aku mengetahui kalau anakku bersamamu atau kau menyuruh orang menyembunyikannya..kau maupun orang itu akan mati. Ingat itu!” bentaknya. Lalu pergi meninggalkan warung yang sudah berantakan.

    “Yoona..kau tidak apa-apa kan. Kita kerumah sakit yaa” khawatir Pamannya. Yoona mencoba berdiri, dia sudah tidak bertenaga.

    “aku baik-baik saja paman..maaf karena aku warung paman jadi berantakan” katanya sambil menunduk.

    “ini bukan salah mu..ayo paman bantu istirahat..” Mereka berjalan perlahan bersama.

    Yuri mengantar Jessica kerumahnya sampai didepan pintu.

    “Aku pulang dulu..” ucap Yuri canggung sambil mengusap lehernya.

    Jessica perlahan mengambil tangannya.

    “gomawo sudah menemaniku hari ini..” ucapnya senang.

    “Ne” angguk Yuri.

    Jessica mengecup pipinya, dia kembali merona.

    “Kau masuk duluan..” Kata Yuri Tersenyum. Jessica perlahan masuk kerumah lalu dia kembali kemotor sambil tersenyum senang.

    Yuri mengecek handphonenya.

    3 panggilan tak terjawab : Paman Yoong

    “Paman? Kenapa paman?” pikirnya. Dia menelpon paman kembali.

    “Paman?” Panggilnya setelah mendengar telponnya dijawab.

    “Yoona sedang dirumah sakit Yuri.” ucap Paman.

    “Yoona dirumah sakit? Yoona kenapa paman?” kaget Yuri.

    “Nanti paman jelaskan..kau kemari lah, temani Yoona”

    “Ne. Aku segera kesana.”

    Yuri segera melajukan motornya menuju rumah sakit.

    “Yoona..kuharap kau baik-baik saja.” Ucapnya.

    .
    .
    .
    TBC

    Annyeong^^/
    gomawo^^”

    Say That PART 4

    Part 4 : Mistake and Ex

    .

    .

    .

    3 hari kemudian

    Yuri melihat Gyuri sedang melamun digazebo rumahnya menatap taman bunga yang terpapar indah dibawah. Perlahan dia menjajarkan posisinya disamping Gyuri, ikut dalam diam.

    “Kau tidak perlu menemaniku seperti ini yul..” Ucap Gyuri pelan masih tidak mengalihkan pandangannya.

    “Aku akan tetap disini..” balas Yuri.

    “Pulanglah..”

    “Tidak”

    Gyuri menghadap Yuri, matanya mulai berair menahan emosinya. Tentang kematian ibunya yang membuatnya tinggal sendiri, tentang Yuri yang selama 3 hari ini selalu disampingnya menemaninya, dia tidak ingin menyusahkan siapapun, dia tidak ingin membuat Yuri mengasihaninya sekarang.

    “Sebaiknya kau pulang, aku ingin sendiri aku tidak mau kau temani”

    “tidak” ucap Yuri acuh dia masih menatap kelain.

    “Aku tidak ingin kau kasihi..aku tau permintaan eomma kepadamu dan aku tidak mau kau mengasihaniku!” marah Gyuri, “aku bisa mengurus hidupku sendiri!”

    Gyuri tidak sengaja saat itu mendengar percakapan Yuri kepada orang tuanya saat dia meminta ijin tinggal dirumah Gyuri untuk menemaninya. Dia menceritakan semua yang dipinta oleh ibu Gyuri, dan berjanji akan itu. Saat itu Gyuri mulai memarahi dirinya sendiri, tentang perasaannya pada Yuri. Dia tau kalau Yuri menyukai orang lain tapi bagaimana pun dia tetap tidak bisa menolak perasaannya yang secara tidak sadar mulai menyukai Yuri..mencintainya lebih dari seorang dongsae. Perhatian Yuri, cerita Yuri dan perasaan Yuri yang diceritakan padanya membuatnya ingin merasakan itu.

    “Unnie..” kaget Yuri, dia tidak menyaka kalau Gyuri sudah mengetahui semuanya.

    “biar bagaimana pun aku berterima kasih kepadamu..karena sudah menemani ku untuk beberapa hari yang lalu. Heh ini sangat mengelikan karena kau sudah tau perasaanku padamu..jangan buat aku tambah menyedihkan yul..sekarang pulanglah ku mohon tinggalkan aku sendiri” Gyuri tidak bisa menahan rasanya dia mencoba tetap bisa berdiri menghadap Yuri membiarkan tangisnya mengalir bebas. Yuri memeluknya cepat, dia menolak tapi karena lemah akhirnya dia membiarkan pelukan itu. Membenamkan tangisnya dibahu Yuri.

    “itu tidak penting sekarang unnie..aku tidak peduli dengan permintaan itu..aku disini bukan untuk unnie tapi untuk diriku sendiri, aku tidak bisa membiarkan unnie sendiri dan meninggalkan unnie karena itu akan membuatku sakit..biarkan aku mencoba nya unnie..mencoba membalas perasaan unnie..” Yuri sadar dengan perkataanya, ini keputusannya. Dia tau kalau ini akan membuatnya menyakiti Jessica. Jessica sudah beberapa hari ini dia tidak menghubunginya..membiarkannya. Dia sangat mencintai Jessica lebih dari apapun tapi unnie..melihat Gyuri seperti ini membuatnya juga sakit. Perasaan apa yang dirasakannya..dia mencintai Jessica tapi juga mencintai Gyuri dan dia tidak bisa memilih sekarang.

    “Aku mencintaimu Yul..terimakasih” isak Gyuri. Yuri mengencangkan pelukannya dan menahan tangisnya sendiri.

    Mrs. Kwon keluar membawa minuman dan menarunya diatas meja dihadapan Jessica.

    “Aku benar-benar senang melihat kau sekarang jessica”

    “aku juga senang bisa bertemu dengan bibi lagi..”Senyum Jessica meletakkan kembali minumannya.

    Mrs. Kwon duduk disofa di depan Jessica.
    “Kau tau saat kau pergi, Yuri benar-benar kehilangan..dia bahkan tiap malam bermimpi dan berteriak memanggil namamu, dia tidak bergaul dengan temannya yang lain dia hanya menghitung tanggal saat itu” cerita mrs. Kwon.

    Jessica kembali tersenyum mendengarnya, ternyata Yuri juga sangat merindukannya saat itu. Dia bisa mengejek Yuri nanti pikirnya.

    “kalian sudah besar sekarang..kau sangat terlihat cantik” puji mrs. Kwon.

    “Kamsahamnida bibi..bibi juga masih terlihat sangat cantik” balas Jessica.

    “ah kau ini..oh tentang Yuri sekarang dia sedang bersama sepupunya, orang yang bisa menghiburnya saat kau pergi..dia satu-satunya orang yang dekat dengan Yuri. aku tidak tau kalu dia tidak ada Yuri mungkin kurus kering memikirkanmu..dia bahkan sempat kehilangan dratis berat badannya.”

    “Jadi Yuri selama 3 hari ini menginap disana bibi..tapi kenapa dia tidak menghubungiku?” bingung Jessica. Dia sudah mencoba menghubungi Yuri tapi Yuri tetap tidak bisa dihubungi jadi dia mencarinya kerumah.

    “Mungkin dia lupa..”

    “Lupa..” kecewa Jessica.

    “Sepupunya baru saja kehilangan orang tuannya..dan Yuri disana untuk menghiburnya. Itu pasti sangat membantu karena baru-baru ini kami juga baru menyadari kalau ternyata sepupunya itu menyukai Yuri..”

    “Apa??” Tanya Jessica berharap dia salah mendengar.

    “Dia menyukai Yuri, kami tidak melarang itu karena semua keputusan ada di Yuri..kurasa Yuri juga menyukainya karena mereka sudah sangat dekat sampai ketahap ini..” senyum mrs. Kwon. “Jessica janji dengan bibi jangan bilang ke Yuri kalau bibi menceritakan ini..dia pasti sangat malu”

    Jessica hanya mengangguk pelan, dia berdiri berpamitan. Sampai didepan pintu dia kembali menghadap mrs. Kwon.

    “Bibi..jika Yuri pulang bisa kah kau menyuruhnya segera menghubungiku.” pinta Jessica.

    “Tentu saja” senyum Mrs. Kwon.

    “Hmm satu lagi..tentang sepupunya itu..hmm bisa kah aku mengetahui namanya..” tanyanya. Sebenarnya dia ingin tidak peduli dia percaya pada Yuri. Yuri tidak mungkin mengecewakannya apalagi menyukai orang lain tapi ini sangat mengganggu dan dia ingin memastikan dengan siapa Yuri sekarang.

    “oh nama nya Gyuri..park Gyuri” jawab Mrs. Kwon.

    “Gomawo bi..” Jessica memeluk Mrs. Kwon sebelum pergi.

    Dia menelusuri jalan menuju keapartementnya.

    “Gyuri..park gyuri..park gyuri..park gyuri..gyuri..” ulangnya terus menerus. Dia terdiam.

    “Park Gyuri..miss Gyuri !”

    Dia cepat mengambil iphonenya.

    “Taec oppa..bisakah kau menemaniku kerumah miss. Gyuri sekarang?”

    “ah tidak..aku hanya ingin mengetahui keadaannya saja karena sudah 3 hari ini dia tidak masuk..”

    “gomawo oppa aku tunggu disini”

    “De..akan ku smsi”

    Jessica duduk dikursi melihat mobil-mobil yang sibuk melewatinya pikirannya menuju ke Yuri.

    “Yuri buat aku percaya padamu..” Ucapnya. Perlahan air matanya mengalir.

    tet tot..

    “Siapa?” Tanya Yuri membuka pintu. Taec tersenyum didepannya sambil mengangkat tangannya sebelah.

    “Haii..aku temannya Gyuri. Apa dia ada?” Tanya Taecyeon.

    “Oh Temannya Gyuri unnie..dia ada didalam, masuklah..” senyum Yuri. Dia senang jika ada teman Gyuri yang datang karena itu mungkin bisa membantu Gyuri kembali ceria lagi.

    “gomawo” Taecyeon masuk kedalam saat Yuri ingin menutup pintu. Dia terhenti melihat siapa yang didepannya orang yang dari tadi berada dibelakang Taecyeon. Matanya berair.

    “Jessica..” Ucap Yuri. “bagaimana kau bisa disini?” bingungnya.

    Taecyeon kembali keluar, dia heran melihat Jessica masih diluar dan Yuri tetap berdiam didepan pintu.

    “Jessica ayo masuk..oh ini Jessica dia juga temannya Gyuri..kami teman kerja” jelas Taecyeon. Dia menggadeng Jessica masuk. Yuri menahan tangan Jessica.

    “Kita bicara diluar..” ucapnya pelan.

    Jessica tidak menghiraukannya dia cuma menatap Yuri lalu melepaskan tangannya, berjalan masuk. Taecyeon kembali heran.

    “Taecyeon..Jessica..” Ucap Gyuri saat dia melihat mereka. Dia baru saja keluar dari kamar mandi.

    “Hai Gyuri..” sapa Taecyeon.

    “Gyuri..” Ucap Jessica.

    “Kalian kenapa bisa disini?” Tanya Gyuri. Dia mengajak mereka duduk bersama. Sementara Yuri masih berdiam didepan pintu menatap Jessica dari jauh.

    “Kau tidak masuk kerja..kami mengkhawatirkanmu..atasan seperti apa yang membuat anak buahnya terlantar dikantor” canda Taecyeon.

    “Sorry..hanya saja aku ada urusan sendikit..” alasan Gyuri dia tidak ingin menceritakan tentang ibunya itu akan membuat dia mengingat ibunya lagi. Dia tersadar Jessica memperhatikannya daritadi. “Jessica..kau baik-baik saja?” tanyanya.

    “Aku baik-baik saja..” senyum Jessica. Dia mencoba menyembunyikan perasaanya dengan tersenyum tapi itu malah membuatnya merasa tambah sakit.

    “Kau tidak terlihat baik Jessica” Ucap Gyuri, “Apa yang membebanimu?”

    “aku..tidak ada” Jawab Jessica lagi. Taecyeon yang berada disampingnya merangkul Jessica.

    “Dia baik-baik saja Gyuri..kau tau Jessica yang mengajakku kesini dia sangat mengkhawatirkan mu” senyum Taecyeon.

    Yuri yang melihatnya sudah tidak tahan lagi. Dia tidak ingin ada orang lain yang merangkul Jessica, melihat Jessica yang seperti ini sekarang sangat mengganggunya. Dia berjalan kearah mereka.

    “Jessica..bisa kita bicara diluar” Ucapnya disitu. Jessica menatap Yuri dengan padangan tajamnya.

    “Aku tidak mau”

    “Kumohon..bisa kita bicara sebentar”

    “Katakan disini” ketus Jessica.

    Gyuri dan Taecyeon hanya terdiam melihat mereka. Tatapan Jessica yang tajam kearah Yuri sangat memperlihatkan rasa sakitnya.

    “Ikut aku keluar” Ajak Yuri lagi.

    “Tidak!” marah Jessica dia berdiri melepaskan tangan Yuri. Yuri meraih tangannya lagi dan menariknya ikut keluar rumah. Taecyeon ingin menahan Jessica kembali tapi Gyuri menahannya.

    “Biarkan mereka bicara..”

    “Tapi Jessica..dia tidak mau. Orang itu siapa? Kenapa dia mengenal Jessica?” Bingung Taecyeon.

    “Dia Yuri teman Jessica” jelas Gyuri. Dia melihat Yuri yang menarik paksa Jessica keluar.

    “Teman? Dia menyakiti Jessica” protes Taecyeon kembali ingin menghampiri mereka tapi kembali di tahan Gyuri.

    “Dia tidak mungkin menyakitinya” Gyuri terdiam sebentar..”Jessica orang yang dicintainya sejak dulu” lanjut Gyuri pelan.

    Yuri terus membawa paksa Jessica keluar, dia tidak peduli Jessica yang berteriak padanya.

    “Lepaskan!”

    “Aku tidak mau!”

    “Yuri!”

    Mereka berhenti ditaman yang dipenuhi dengan bunga-bunga. Itu taman ibunya Gyuri, disana sangat tenang sebelumnya.

    “Apa maumu??” teriak Jessica.

    “Sica..aku minta maaf” Ucap Yuri kali ini dia menggenggam lembut tangan Jessica. Mengelus tanda merah akibat ulahnya.
    Jessica menangis.

    “Aku sudah mendengar semuanya..tentang Gyuri yang menyukaimu, jelaskan Yul? Kenapa kau tidak menghubungiku? Apa kau lebih memilihnya!!” teriak Jessica lagi dia tidak bisa menahan amarahnya. Yuri berusaha tetap menahan tangan Jessica.

    “Aku tidak bermaksud seperti itu..aku..aku juga bingung..aku mencintai mu Jessica, kenapa aku harus memilih..” tangis Yuri juga.

    “Aku tidak percaya denganmu Yul..”

    “Jessica..aku tidak tau apa yang harus kulakukan sekarang, Gyuri..aku tidak ingin membuatnya sedih..” Yuri mengacak rambunya sendiri merasa prustasi. “Aku bingung perasaan ku terhadap kalian berdua”

    “Aku sudah tau jawabannya..” ucap Jessica.

    “Aku melepaskanmu Yul..”

    “Jessica” kaget Yuri.

    “Aku membencimu Yul” ucap Jessica dia segera pergi meninggalkan Yuri tapi Yuri menahannya lagi.

    “Jessica..aku mencintaimu..” Tulus Yuri dia memeluk Jessica dari belakang.

    “Tapi kau mencintai Gyuri juga! Apa itu namanya cinta!” Jessica berbalik dia menampar Yuri kuat.

    “Aku membencimu..sangat..sangat membencimu..kau memberikan aku harapan tentang mu dan sekarang kau bingung dengan perasaanmu..aku membencimu!”

    Jessica pergi berlari menghampiri Taecyeon didepan mobilnya.

    “Jessica”

    “Oppa antar kan aku pulang sekarang” ucap Jessica sambil menangis. Taecyeon yang melihatnya langsung menuruti.

    Sedangkan Yuri menangis ditempatnya.

    Gyuri melihat Yuri dari Gazebo.

    “Ternyata dia memang Jessica itu..Jessica yang bisa membuatmu ceria dan menangis seperti ini. Maafkan aku Yuri..ini semua salahku” ucap Gyuri.

    .
    .
    .

    TBC

    Tet tot minggu tenangku telah tiba hehehe minggu tenang yang gagal masih aja dosen masuk..laporan praktek menumpuk lagi!
    Minggu tenang oh minggu tenang lalalalalalalalalalalalaalala~

    5 desember: Yuri unnie saengil chukae saranghaeyo :*
    salam buat Tiffany unnie ya hehe

    gomawo^^

    Next chap : How great is Your love.